BERITA DRN TERKINI

Pada hari Rabu, 18 November 2015  Komisi Teknis (Komtek ) Material Maju Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan rapat yang dilaksanakan di Fakultas Teknik Mesin, Universitas Gajah Mada, (UGM), Jogyakarta. Rapat dimulai dengan pembukaan oleh Dr.Ir. Utama H. Padmadinata  dan dihadiri oleh Anggota KOMTEK material maju  antara lain  Ir. Budi Susanto Sadiman , Dr. Ir. Nurul Taufiqu Rochman, B.Eng, M.Eng, Ir. Achdiat Atmawinata, Prof. Dr. Ridwan, Dr.Ir. Achmad Sobandi Meng, Prof. Ir. Jamasri, Ph.D dan Dr. Dwi Gustiono. Adapun sekertariat DRN yang Turut mendampingi anggota komtek material maju yaitu  Sunar MAP , Trimono Hermanto, dan  Nurseha, S.Pd. Materi rapat yang dibahas meliputi empat hal yaitu: Memberi masukan dalam penyusunan Grand Design Riset Nasional, Memberi masukan kebijakan dlm pencapaian tujuan dan sasaran strategis Kementerian Ristek dikti, Evaluasi ARN saat ini serta Hilirisasi dan Komersialisasi, dan yang terakhir, Rencana FGD Komtek Material Maju. Ada lima point yang dihasilkan  pada rapat   tersebut yang meliputi:

 1. Perlunya melihat kebijakan semisal RIPIN  (Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional) dalam dalam penyusunan RIRN. Penyusunan RIPIN diatur dalam UU Perindustrian dan UU No.3/2014, dengan jangka waktu 20 tahun. Adapun penyusunan Periode jangka pendek lima tahunan diatur dalam Kebijakan Industri Nasional (KIN), seperti yang tertera pada gambar berikut:

       Menurut pengalaman Kementerian Perindustrian kegiatan yang terkait RIPIN telah disediakan anggarannya sehingga pelaksanaannya menjadi lebih pasti dapat dilaksanakan.

2.  Bagi Kementerian Ristek Dikti  dalam mencapai tujuan dan sasaran strategis serta pembuatan Jakstranas perlu menentukan hal-hal sebagai berikut:

· Visi, Misi & Tujuan

· Sasaran-sasaran

· Jangka Waktu

· Arah Kebijakan

                            - Strategi 1

                            - Strategi 2

                            - Strategi 3

  · Matrik yang mampu menjawab 5W+1H, 5 M (Man, Money, Material, Method, Machine), PDCA

· Mencakup Aspek spasial, hubungan pusat dan daerah, keterkaitan/koordinasi program+ kegiatan K/L & “Stake Holder” terkait (Swasta/BUMN/ BUMD)

· Ada Kesetaraan level perundangan dalam kerangka perencanaan nasional ( UU, PP, Perpres, Permen)

· Punya kekuatan “mengikat” antar K/L dan stake holder

3. Agenda Riset Nasional (ARN) yang ada pada periode-periode sebelumnya, selalu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari  Kebijakan Strategis Nasional  (Jakstranas). Kombinasi antara Kebijakan yang diatur oleh Jakstranas dan Teknis dimuat agenda riset di ARN. Dengan demikian ada kejelasan Visi. Misi. Arah, Prioritas,

4. EVALUASI ARN Komtek Material Maju, telah disusun dan sedang dalam evaluasi bersama Kemen Ristek Dikti

 

5. Pelaksanaan FGD Komtek Material Maju, diputuskan mengambil Topik : “Apakah Industri Lokal Membutuhka Riset”. Dengan Pembicara : Bapak Buntoro Setiomuljo, Presiden Direktur PT. Mega Andalan Kalasan, Bapak Hendro Wijayanto, Presiden Direktur CV Karya Hidup Sentosa dan Direjen Penguatan Inovasi Dr. Jumain Appe.

Rapat Komtek Energi Dewan Riset Nasionaldilaksnakan pada tanggal 6 November 2015 bertempat di Ruang Rapat Fak. Teknik Mesin UGM, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke Baron techno Park di Gunung Kidul. Rapat membahas  Evaluasi ARN 2015-2019,  Penyusunan Grand Desain Riset Nasiona, Persiapan FGD, Kunjungan ke Baron Teknopark dan Lain-lain.

 Rapat  hari pertama dipimpin oleh Wakil ketua Komtek Energi P. Deendarlianto dengan agenda Evaluasi Agenda Riset Nasional (ARN) 2015-2019.Rapat hari kedua dipimpin oleh Ketua Komtek Energi P. Arnold Y. Sutrisnanto dengan agenda Pembahasan Grand Desain Riset Nasional, Persiapan FGD, Kunjungan ke Fasilitas Baron Teknopark, dan lain-lain.Rapat  hari pertama dipimpin oleh Wakil ketua Komtek Energi P. Deendarlianto dengan agenda Evaluasi Agenda Riset Nasional (ARN) 2015-2019.Rapat hari kedua dipimpin oleh Ketua Komtek Energi P. Arnold Y. Sutrisnanto dengan agenda Pembahasan Grand Desain Riset Nasional, Persiapan FGD, Kunjungan ke Fasilitas Baron Teknopark, dan lain-lain.

 Beberapa catatan penting terkait evaluasi ARN 2015-2019, antara lainHasil evaluasi topik-topik riset telah disusun dalam Matrik ARN 2015-2019bidang energi. Evaluasi yang telah dilakukan adalah tema/program No. 1 dan No. 2 (Pemenuhan Kebutuhan Bahan Bakar Nasional, dan Pemenuhan Kebutuhan Listrik Nasional).  Untuk tema/program No. 3 dan No. 4 (Pengembangan Teknologi dan Manajemen Energi Menuju Sistem Energi Cerdas (Smart Energy System), dan Penelitian dan pengembangan kebijakan teknologi nasional di bidang energi) menjadi pekerjaan rumah Anggota Komtek, dan akan dibahas pada Rapat Komtek Energi berikutnya.Untuk topik riset 1.4 Hidrogen dan Nuklir (lihat matrik), akan ditambahkan beberapa topik riset oleh P. Deendarlianto.  Dalam menentukan topik-topik riset, selain pemenuhan kebutuhan energi, harus memperhitungkan juga trend dunia dengan memperhatikan masalah penurunan emisi (low & zero carbon, energi efisiensi, dan carbon capture storage). Paling tidak, hal ini dinarasikan dalam pengantar ARN.  Grand skenario Bahan Bakar Nabati (dalam jangka panjang) harus mengarah pada bahan baku non pangan. Namun untuk jangka pendek, pemakaian bahan baku berbasis pangan (FAME) bisa dilakukan agar bisa memenuhi permintaan.

Mengenai  Grand Design

A. Pembahasan Grand Desain Riset Nasional

· Komtek Energi mengusulkan lima Program Unggulan Hilirisasi dan Komersialisasi Riset  Bidang Energi, yaitu:

i.  Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Skala Kecil

ii. Pengembangan Teknologi Bahan Bakar Nabati (BBN)

iii. Pengembangan Sistem Managemen Energi Pintar (SEMS)

iv. Pengembangan HTGR (High Temperature Gas Cooled Reactor)

v.  Sains dan Teknopark (STP) Enegi Baru Terbarukan (Baron Teknopark)

· Catatan:

STP Energi Baru dan Terbarukan (Baron Teknopark) yang akan diangkat menjadi riset unggulan sebaiknya dilengkapi naskah akademik.

 

Persiapan Focus Group Discussion (FGD)

· Rapat memutuskan: FGD komtek energi tetap diagendakan sebagaimana diputuskan dalam Rapat Komtek pertama, yaitu pada tanggal 24 November 2015, dilaksanakan di Jakarta, dengan tema Penyusunan Grand Desain Riset IPTEK Energi. 

· FGD akan menghadirkan narasumber dari institusi pemasok dan pengguna energi yang akan dikaitkan dengan riset, yaitu Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Kelistrikan, serta Bappenas. Moderator: P. FX Sutijastoto (Kabalitbang ESDM/Anggota DRN).

FGD ini dilaksanakan pada tanggal 30 November bertempat di Balai Besar Litbang Pasca Panen kementerian Pertanian.  FGD ditujukan untuk Penyempurnaan Matrik Rencana Induk Riset dan Inovasi Nasional (RIRIN) Bidang Pangan dan Pertanian,  dihadiri sekitar 40 peserta yang berasal dari Anggota DRN Komtek Pangan dan Pertanian, Para Peneliti Litbang Kementan, Badan Ketahanan Pangan Kementan, LPNK,  KADIN, dan Swasta.

           

Acara pembukaan diawali dengan ucapan selamat datang oleh Prof. Sri Widowati yang mengatas-namakan Pimpinan Balai Besar Litbang Pasca Panen Kementan.  Selanjutnya FGD dibuka oleh Sekretaris DRN (Dr. Iding Chaidir) yang menyampaikan keterkaitan ARN dan RIRIN, dimana ARN lebih bersifat tahunan sedang RIRIN merupakan bagian dari Grand Design yang lebih bersifat jangka panjang (10, 15, 20, 25 tahun dan sebagainya). FGD ini bertujuan untuk penyempurnaan draft ARN dengan berorientasikan semangat hilirisasi dan komersialisasi, yang disusun dengan 2 hirarki: (i) Tema Produk (Riset Area), dan (ii) Topik Riset dan Inovasi, dengan justifikasi (alasan / latar belakang pemilihan). Draft tersebut disusun dalam bentuk matriks yang dilengkapi dengan aktor (instansi pelaku), luaran, target tahunan, instrument kebijakan, anggaran dan data pendukung Kunjungan singkat ke Laboratorium Nano Teknologi Pasca Panen yang juga menampilkan produk pangan hasil riset di bidang nanoteknologi dan hasil riset pasca panen lainnya.

Simpulan

  1. Riset pangan merupakan amanat UU 18/2012 tentang Pangan
  2. Paradigma baru dalam riset harus  berorientasikan pada hilirisasi, inovasi dankomersialisasi
  3. Peningkatan dayasaing, diawali dengan pemahanan  teknologi dan inovasi untuk dibawa ke industri
  4. Untuk problem solving  diperlukan identifikasi  spesifikasi  di lapangan
  5. Untuk Hilirisasi dan dayasaing perlu peran Perekayasaan, yang dinilai sebagai profofesi  penting dan sentral untuk keberhasilannya.
  6. Penyempurnaan ARN diharapkan menjadi masukan untuk penyusunan rencana induk (RIRIN).
  7. Perlu di bentuk Pokja Pangan (anggota DRN dengan mitra terkait lainnya)

 

Komisi Teknis (KOMTEK) Energi Dewan Riset Nasional (DRN) telah melaksanakan Rapat KOMTEK ke-1 pada Kamis, 22 Oktober 2015 di Ruang Rapat DRN, lantai 1 Gedung I BPPT, Jl. M.H. Thamrin No. 8, Jakarta Pusat. Tema rapat : 1] Rencana Kerja KOMTEK Energi tahun 2015, 2] Evaluasi Agenda Riset Nasional 2015-2019,dan 3] Pembahasan Isu-Isu Lainnya.

 

Rapat dibuka pada pukul 13.00 WIB oleh Ketua KOMTEK Energi, Dr. Arnold Soetrisnanto dan dihadiri oleh Anggota KOMTEK Energi antara lain, Prof. Widodo Purwanto, Dr. MAM Oktaufik, Dr. Tirto Prakosa Brojonegoro, MEng, Asisten KOMTEK Energi, Dr. Agus Nurrohim, M.Eng dan dari Sekretariat DRN, Sunar, S.Sos, M.AP. Materi rapat disampaikan oleh Asisten KOMTEK Energi, Dr. Agus Nurrohim, M.Eng, antara lain tentang “Struktur Organisasi DRN, Evaluasi ARN 2015-2019, Rencana Kerja KOMTEK yang meliputi Rapat KOMTEK, Focus Group Discussion, Rapat Ad Hoc, Sidang Paripurna dan lain-lain, serta pembasan tiga belas Isu yang disampaikan oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti dengan pimpinan DRN pada waktu yang lalu”.

Setelah dilakukan pembahasan dan tukar pendapat, maka Rapat KOMTEK Energi DRN hari ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Usulan Tema dan Topik Riset ARN 2015-2019 Komisi Teknis Energi DRNsebagai berikut : 1] Riset Prioritas       Nasional:a. Kedaulatan Pangan, b. Kedaulatan Energi, c. Kemanfaatan Air, d.Kemaritiman, 2] Program  Prioritas  Riset Bidang: a. Pangan, b. Energi, c. Transportasi, d. TIK, e. Hankam, f. Kesehatan dan Obat, g. Material Maju dan Sosial Humaniora.
  2. Usulan Riset Priositas Nasional : 1] Pemenuhan Kebutuhan Bahan Bakar Nasional, 2] Pemenuhan Kebutuhan Listrik Nasional, 3] Penguatan Teknologi Konservasi Energi, dan 4] Penelitian &pengembangan kebijakan teknologi nasional di bidang energi.
  3.  Usulan Riset Prioritas Bidang: 1] Penelitian dan Pengembangan Bahan Bakar Berbasis Energi Fosil, 2] Penelitian dan Pengembangan Bahan Bakar Berbasis Energi Baru dan Terbarukan,3] Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kelistrikan, 4] Penguatan Teknologi Konservasi Energi, dan 5] Riset dan Pengembangan Pendukung Bidang Energi.
  4. Dari Tiga belas butir Hasil Diskusi Pimpinan DRN dengan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti,  Komisi Teknis Energi DRN berencana akan menanggapinya melalui Policy Brief yang akan dikemas dengan isu terkini. [sn/gusnur]

Rapat dilaksanakan di Ruang Rapat lantai 6 Wisma MM UGM  Yogyakarta,  dibuka  dan dipimpin oleh Ketua Komtek Pangan dan Pertanian. Dalam sambutannya disampaikan bahwa isu yang sangat santer yang akan dibahas saat ini adalah Hilirisasi dan Komersialisasi.  Draft ARN yang pada dasarnya sudah selesai perlu disempurnakan dengan semangat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dengan  menyelipkan konsep hilirisasi dan komersialisasi yaitu bagaimana hasil riset dapat diimplementasikan  ke industri.  Disampaikan pula bahwa pada rapat komtek ini akan mendengar masukan dari narasumber yang berasal dari akademisi dan praktisi untuk memperkaya ARN dalam hal hilirisasi dan komersialisasi.

Rapat dilaksanakan di Ruang Rapat lantai 6 Wisma MM UGM  Yogyakarta,  dibuka  dan dipimpin oleh Ketua Komtek Pangan dan Pertanian. Dalam sambutannya disampaikan bahwa isu yang sangat santer yang akan dibahas saat ini adalah Hilirisasi dan Komersialisasi.  Draft ARN yang pada dasarnya sudah selesai perlu disempurnakan dengan semangat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dengan  menyelipkan konsep hilirisasi dan komersialisasi yaitu bagaimana hasil riset dapat diimplementasikan  ke industri.  Disampaikan pula bahwa pada rapat komtek ini akan mendengar masukan dari narasumber yang berasal dari akademisi dan praktisi untuk memperkaya ARN dalam hal hilirisasi dan komersialisasi.

Hasil Diskusi :

Diskusi dalam rapat mengangkat perlunya pemfokusan draft ARN dengan kriteria krisis, berkelanjutan ke masa depan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara masal.  Fokusing perlu menjadi komitmen, karena bila tidak focus, maka ARN tidak akan digunakan sebagai acuan.

Dalam menyusun ARN perlu dilengkapi dengan berbagai hal, yaitu: (i) kebijakan, (ii) SDM, (iii) infrastruktur, (iv) anggaran, dan (v) instansi terkait, sehingga dapat direalisasikan.

Dalam rangka penyempurnaan draft ARN, maka ke depan perlu dipertimbangkan jenis-jenis riset yang relevan, baik riset dasar maupun riset terapan, dan sekaligus dapat dijadikan masukan untuk penyusunan Grand Design di Kemenristekdikti.

Komtek Pangan perlu mengacu pada  usulan Kadin tentang “Feed The World”, yang maknanya tidak saja ketahanan pangan tetapi juga dapat mengeksport produk pangan ke luar negeri.  Untuk ini diperlukan revitalisasi pertanian, perkebunan dan kehutanan, dengan mengusung kembali pangan-pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Dalam merealisasikan diversifikasi pangan, peran pemerintah perlu diperjelas, khususnya dalam mendukung kebijakan dapat mempersiapkan logistiknya.  Kebutuhan pangan perlu dikoreksi yaitu karbohidrat, protein dan lemak, sehingga untuk pemenuhannya dapat digunakan dari berbagai jenis sumber, termasuk komoditas pangan lokal. Untuk pemenuhan karbohidrat jangan hanya bicara nasi, untuk protein jangan hanya bicara daging, perlunya makanan beragam dan berbasis pada pangan lokal. Untuk ini perlu menyusun “Buku Putih” yang dapat disampaikan kepada Pemerintah.

Pada saat ini, import pangan tidak dapat dihindari, dan untuk ini diperlukan koordinasi dan bekerja secara sinergi antara Kementerian yang terkait. Kasus import jagung yang tertunda pembongkarannya adalah bukti tidak adanya koordinasi dan sinkronsikasi Kementerian terkait. Disamping itu, perlunya memahami berbagai isu penting pada Kabinet Kerja yaitu  Nuansa Pemerintahan Baru dengan memperkuat sinergi dan simplisiti.  Khususnya di bidang pangan perlunya mengembangkan  kawasan pengembangan pangan (bukan food estate), karena  food estate akan bertentangan tanah adat, yang mencakup pula diversifikasi pangan (karbohidat, protein dan lemak).

Dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim, varietas unggul yang toleran terhadap berbagai cekaman perlu mendapat perhatian.  Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan adalah Indikasi geografis, mengingat setiap daerah mempunyai spesifikasi tertentu produk pangan baik pangan pokok maupun pangan lainnya.  Di Kalimantan terdapat 74 varietas padi lokal dari Kalimantan yang dipelihara masyarakat dayak merupakan bentuk keanekaragaman (biodiversitas)  dengan spesifik lokasi.

 Dari diskusi yang dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan :

  1. Dalam melakukan reformulasi ARN, perlu melihat UUD 18 sebagai acuan, apakah diperlukan untuk melakukan revisi
  2. Dalam  penyusunan ARN perlu dilakukan  sinergi antar Komtek.
  3. Hilirisasi, bukan sekedar ARIN tetapi ARIN plus  implementasi hasil riset ke dunia industri
  4. Diversifikasi pangan sangat penting di tingkat nasional bukan hanya tugas Kementerian Pertanian tapi  berhubungan erat dengan Kementerian lain, dan mempunyai fungsi lain misalnya dengan energy,  fungsional food dan sebagainya.
  5. Jagung menjadi idola, tapi untuk jangka pendek belum mendesak, karena untuk pakan saja belum tercukupi /kurang
  6. Para ahli mengisyaratkan pertanian kembali ke alam: memahami geografis, spesifik lokasi, dengan local wisdom
  7. Industri pangan berdimensi lain dan sangat diperlukan bersinergi  dengan  Komtek lain
  8. Guna mengisi permintaan Dirjen Kemenristekdikti akan dibuat  thema bidang pangan dan pertanian adalah  diversifikasi pangan.
  9. Berbagai  deliverable products: ARIN, Grand Design pembangunan Iptek, Hilirisasi, (RPMN Iptek), program riset industry dan white paper  akan disampaikan ke pemerintah via Menteri Ristekdikti. Selain ini diperlukan menggerakan sumber pendanaan yang ada serta  menggangkat peran perekayasa yang sangat diperlukan dalam hilirisasi dan komersialisai bidang pangan dan pertanian.