BERITA DRN TERKINI

 

 

Komisi Teknis Kesehatan Obat DRN, yang anggotanya terdiri dari Dr.dr Ratna Sitompul (Ketua) , Prof Dr. Achmad Syahrani, Dr. Trisa Wahyuni Putri, Ir. Titah Sihdjati Riadhie, Dr. Boenyamin Setiawan, Prof Dr. Adi Utarini, Drs. Iskandar, dan dr. Siswanto, MHP, DTM mengadakan Rapat komtek pada hari Jumat tanggal 2 September 2016 bertempat  di Ruang Rapat Gedung II BPPT Lantai 23.  Rapat dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris DRN,  Asisten Komtek, Staf Profesional,  Perwakilan UPT Stem Cell RSCM/FKUI, dan mengundang secara khusus Prof.Dr.dr Faried  Anfasa Moeloek, SpOG (K) dan Prof Dr. dr. R. Samsuhidayat, Sp.B-KBD.  Rapat membahas tindak lanjut kunjungan ke UPT Stem Cell dan persiapan sosialisasi Agenda Riset Nasional. Dalam arahannya, Ketua DRN menyampaikan bahwa tugas DRN adalah memberi advis kepada Menristekdikti.  Setelah menyelesaikan Agenda Riset Nasional (ARN), kegiatan DRN selanjutnya adalah memobilisasi anggota DRN ke pusat-pusat unggulan riset, guna membantu pemecahan masalah koordinasi riset  dan mendorong dihasilkannya inovasi untuk kemandirian dan daya saing nasional.   Prof Faried Anfasa Moeloek menyampaikan bahwa Stem Cell  adalah pengobatan masa depan yang perlu dirioritaskan, selain bahan baku obat dan vaksin. Ke depan paradigma yangperlu dikembangkan adalah “mencegah” ketimbang “mengobati” orang sakit.  Kendala pembiayaan perlu dicari jalan keluar, karena di Kyoto University, dana riset Stem Cell di Laboratorium mereka setara dengan Rp 2,2 Triliun per tahun.   Selanjutnya Prof Samsuhidayat menyampaikan perlunya dikembangkan  pengobatan berbasis riset (Compassionate Request/ Consumer Driven Research)  untuk pengobatan melalui Stem Cell yang dianggap masih dalam tahapan riset.  Perlu melibatkan pengusaha (KADIN), memanfaatkan dana LPDP, dan Filantropis.   Rapat juga membahas bagaimana mengatasi kendala yang dihadapi oleh UPT Stem Cell RSCM/UI yang meliputi kendala pendanaan dan birokrasi.  Disarankan pula untuk memanfaatkan Ipres 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Kesehatan dan Farmasi.   Pada akhirnya Ketua Komtek Kesehatan dan Obat yang memimpin rapat menyimpulkan beberapa langkah tindak lanjut  antara lain perbaikan regulasi, pertemuan tingkat tinggi untuk pendanaan riset, pemanfaatan BPJS, dan pebagian tugas.  (IC)

Lihat Foto Lainnya

 

 

Komisi teknis (Komtek) Teknologi Informasi dan Komunikasi Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan rapat pada tanggal 10 Mei 2016 untuk membahas updateperkembangan Agenda Riset Nasional (ARN) bidang TIK.

Rapat dihadiri oleh Dr. Ir. Basuki Yusuf Iskandar, MA selaku Ketua Komtek TIK, Dr. Eng. Ir. Zulfajri B. Hasanuddin, M. Eng dan Dr. Ir. Dicky R. Munaf, MS, MSCE selaku Anggota Komtek TIK, Nandra Annisa selaku perwakilan dari Shinta Dhanuwardoyo, MBA Anggota Komtek TIK,  Dr. Ir. Iding Chaidir, M.Sc  selaku  Sekretaris  DRN, Dr. Fadhilah Mathar – Asisten Komtek TIK DRN dan didampingi oleh sekertariat DRN Ir. Rijalul Fikri.

Rapat dibuka oleh Dr. Ir. Basuki Yusuf Iskandar, MA selaku Ketua Komtek TIK dengan mengucapkan terima kasih dan menjelaskan singkat secara ringkas tujuan rapat ini. Dalam perkembangan penyusunan Agenda Riset Nasional (ARN) bidang TIK akan secepatnya merumuskan long list yang dapat dijadikan portofolio yang akan menjadi supplement, posisi setiap study penting untuk dapat dimasukkan ke dalam draft ARN.

Evaluasi terhadap ARN harus memiliki tolak ukur pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Terkait industri content, Nandra Annisa yang hadir mewakili Shinta Dhanuwardoyo, MBA adalah pentingnya dukungan kebijakan sehingga investor memiliki persepsi untuk melakukan investasi pada perusahaan teknologi di Indonesia, yang kurang diperhatikan adalah dukungan agent investor untuk industri early stage, untuk itu dibutuhkan satu tema khusus untuk mendukung regulasi, dimulai dari dasar pemetaan (tidak berdasarkan feeling). Penentuan platform menjadi penting agar industri merasa aman berinvestasi di Indonesia. 

 

Komisi teknis (Komtek) kesehatan dan obat Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan rapat pada tanggal 20 November 2015 untuk membahas prioritizing serta penajaman tema Agenda Riset Nasional bidang Kesehatan-Obat yang dikaitkan dengan hasil rapat BP tentang rencana penyusunan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). Rapat dihadiri oleh Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM (K)selaku Ketua Komtek Kesehatan dan Obat, Prof. Dr. Suyanto Prawiroharsono  selaku  Staf professional DRN, Dr. Agung Eru Wibowo.,Apt – Asisten Komtek KO DRN, Dr. Ahmad Saufi – perwakilan dari Kemenristekdikti, Prof. Dr, H. Achmad Syahrani, MS,Apt dan Dr. Trisna Wahyuni Putri, M.Kes selaku anggota dan didampingi oleh sekertariat DRN Sunar, M.Adm .

Dari pertemuan tersebut diperoleh hasil mengenai pandangan terhadap agenda rist nasional (ARN). Implementasi agenda riset nasional yang telah disusun oleh DRN hingga saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan yang ada dikarenakan kekuatan hukum (legal standing) dan dukungan anggaran riset untuk implementasi ARN belum cukup dan kuat.

Solusi yang diusulkan dari permasalahan tersebut yaitu perlunya audiensi dengan Menko Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan terkait upaya penguatan koordinasi lintas K/L bidang riset dan iptek dan koordinasi lintas kementerian. Koordinasi ditingkat Menko ini diharapkan bisa memberikan penguatan sinergi dan akselerasi riset serta pembangunan iptek nasional.Penguatan koordinasi dalam hal ini meliputi aspek kelembagaan riset, penguatan anggaran dan skema distribusinya (block grand), penguatan pendidikan untuk meningkatkan iptek dan tentang Blue Print Riset Nasional.

Mengacu pada hasil Rapat BP Dewan Riset Nasional pada tanggal 20 November 2015 beberapa Point penting perlu ditindaklanjuti oleh setiap komtek seperti : (i). Telah terbangun wacana dan semangat dari Kemneristekdikti untuk menyusun suatu payung dan acuan nasional pelaksanaan riset yang akan dijadikan landasan dan acuan bagi seluruh Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi dan institusi riset lain dalam melaksanakan kegiatan penelitian. Acuan nasional tersebut dituangkan dalam bentuk dokumen yang disebut Rencana Induk Riset Nasional (RIRN). (ii). Dewan Riset Nasional sebagai think thank Kemenristekdikti, merasa perlu untuk merespon wacana dan semangat tersebut.. (iii). Draft Agenda Riset Nasional 2015-2019 yang telah disusun oleh DRN periode sebelumnya, dianggap tepat sebagai substansi inti yang akan mengisi RIRN dimaksud. (iv). Terkait hal tersebut setiap komtek perlu melakukan ekstraksi dan  prioritizing tema riset yang ada dalam draft ARN 2015-2019 menjadi tema prioritas dalam RIRN dan  diterjemahkan dalam bentuk matrik kegiatan selama 5 tahun.

Beberapa masukan terkait tema riset yang telah disusun dalam draft ARN 2015-2019 bidang Kesehatan dan Obat, adalah riset Otak Sehat untuk membangun karakter bangsa. Tema riset tersebut dipilih karena dianggap penting dan relevan, utamanya dikaitkan dengan misi presiden untuk melakukan revolusi mental bangsa Indonesia. Topik riset tersebut ada baiknya diarahkan pada perilaku, kemampuan  dan keseimbangan berfikir rasional dengan tujuan membangun integritas, etos kerja dan semangat gotong royong generasi muda. Tema riset lainnya yaitu Pengembangan produk Biofarmasi-Biosimilar dan Sel Punca yang difokuskan pada topik riset pengembangan vaksin dan stem cell. riset pengembangan vaksin penting dilakukan dalam rangka kemandirian produk vaksin untuk dukungan kegiatan tersebut perlu ada strategi percepatan atau exit policy yang terukur. Hal tersebut dikarenakan pengembangan produk vaksin memiliki periode waktu yang panjang dari awal hingga menjadi produk.

Riset stem cell khususnya untuk pengobatan penyakit jantung dan kanker penting untuk dikembangkan dalam bentuk riset translasional (riset aplikasi klinis). Sama halnya dengan riset pengembangan vaksin, perlu dukungan regulasi yang tepat dan kajian aspek industrialisasi stem cell. Tema riset kesehatan dan obat yang perlu diperhatikan juga adalah riset pengembagan obat herbal. Sebaiknya tema riset obat herbal lebih diarahkan pada tujuan preventif dan promotif. Riset pengembangan obat herbal merupakan terobosan penting untuk mediasi antara obat klinis dan jamu. Penelitian dalam ranah saintifikasi jamu pada dasarnya telah berjalan dengan baik sayangnya untuk skala  lebih besar (massal/ industri) diperlukan kajian dari aspek teknis, ekonomi dan administrasi.

Tema riset selanjutnya adalah riset pengembangan diagnostik dan alat Kesehatan, beberapa kegiatan riset ini telah dilakukan di beberapa perguruan tinggi  atau lembaga riset. Usaha menuju hilirisasi ada baiknya dilanjutkan melalui pendekatan market driven yaitu inovasi teknologi dari prototipe yang ada dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar. Pengembangan rapid test diagnostik  prioritas yang perlu dilanjutkan adalah demam dengue dan HIV, sedangkan untuk pengembangan alat kesehatan yang menjadi instrumentasi medik prioritas  yang perlu menjadi prioritas adalah peralatan EKG dan Stamp jantung.

            Tingginya ketergantungan Tema Riset Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) pada import seharusnya menjadi pemicu utama membangun komitmen nasional pengembangan BBO kementerian. Untuk permulaan, Kementerian Kesehatan telah menyusun roadmap pengembangan BBO sedangkan Kementerian Perindustrian telah menetapkan industri farmasi menjadi salah satu industri prioritas pada RIPIN. Dewan Riset nasional melalui komisi teknis kesehatan perlu melakukan penilaian dan ulasan yang dalam terhadap RIPIN dan roadmap pengembangan BBO yang diharapkan dapat menjadi rekomendasi prioritas riset BBO yang perlu diagendakan pada ARN maupun RIRN.

 

Komisi teknis (Komtek) Pertahanan dan Keamanan Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan rapat pada tanggal 2 Mei 2016 untuk membahas updateperkembangan Agenda Riset Nasional (ARN) bidang Pertahanan dan Keamanan.

 

Rapat dihadiri Drs. Bambang S. Tejasukmana, Dipl. Ing selaku ketua Komtek Hankam, Prof. Dr. Ir. Eddy Sumarno Siradj, M.Sc.Eng selaku anggota Komtek Hankam, Dr. Ir. Iding Chaidir, M.Sc  selaku  Sekretaris  DRN, Ir. Adrian Zulkifli  – Asisten Komtek Transportasi DRN dan didampingi oleh sekertariat DRN Ir. Rijalul Fikri.

Rapat dibuka oleh Drs. Bambang S. Tejasukmana, Dipl. Ing selaku Ketua Komtek Hankam melanjutkan untuk memfokuskan penyempurnaan Draft ARN bidang Hankam, pada rapat kali ini lebih kearah riset bidang Hankam yaitu adanya joint riset dan joint development dengan menyertakan KKIP dalam perumusan Agenda riset bidang Hankam.

Selain itu, penting untuk mempelajari kembali UU nomor 16 tahun 2012 pasal 28 pada penjelasan tentang penelitian dan pengembangan sebagai tambahan dasar perumusan riset di bidang Hankam. Hal ini diperlukan karena riset model di bidang hankam berbeda sekali dengan riset di bidang lain, karena itulah rule model riset seperti joint riset, dan development adalah sesuatu yang perlu diterapkan dalam rumusan ARN bidang Hankam.

Dalam Rapat, Ir. Adrian Zulkifli selaku tim asistensi Komtek Hankam melaporkan bahwa akan meringkas program Komtek Hankam (Lihat Paparan Draft ARN Bidang Hankam).

 

 

Pada hari Rabu, 18 November 2015  Komisi Teknis (Komtek ) Material Maju Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan rapat yang dilaksanakan di Fakultas Teknik Mesin, Universitas Gajah Mada, (UGM), Jogyakarta. Rapat dimulai dengan pembukaan oleh Dr.Ir. Utama H. Padmadinata  dan dihadiri oleh Anggota KOMTEK material maju  antara lain  Ir. Budi Susanto Sadiman , Dr. Ir. Nurul Taufiqu Rochman, B.Eng, M.Eng, Ir. Achdiat Atmawinata, Prof. Dr. Ridwan, Dr.Ir. Achmad Sobandi Meng, Prof. Ir. Jamasri, Ph.D dan Dr. Dwi Gustiono. Adapun sekertariat DRN yang Turut mendampingi anggota komtek material maju yaitu  Sunar MAP , Trimono Hermanto, dan  Nurseha, S.Pd. Materi rapat yang dibahas meliputi empat hal yaitu: Memberi masukan dalam penyusunan Grand Design Riset Nasional, Memberi masukan kebijakan dlm pencapaian tujuan dan sasaran strategis Kementerian Ristek dikti, Evaluasi ARN saat ini serta Hilirisasi dan Komersialisasi, dan yang terakhir, Rencana FGD Komtek Material Maju. Ada lima point yang dihasilkan  pada rapat   tersebut yang meliputi:

 1. Perlunya melihat kebijakan semisal RIPIN  (Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional) dalam dalam penyusunan RIRN. Penyusunan RIPIN diatur dalam UU Perindustrian dan UU No.3/2014, dengan jangka waktu 20 tahun. Adapun penyusunan Periode jangka pendek lima tahunan diatur dalam Kebijakan Industri Nasional (KIN), seperti yang tertera pada gambar berikut:

       Menurut pengalaman Kementerian Perindustrian kegiatan yang terkait RIPIN telah disediakan anggarannya sehingga pelaksanaannya menjadi lebih pasti dapat dilaksanakan.

2.  Bagi Kementerian Ristek Dikti  dalam mencapai tujuan dan sasaran strategis serta pembuatan Jakstranas perlu menentukan hal-hal sebagai berikut:

· Visi, Misi & Tujuan

· Sasaran-sasaran

· Jangka Waktu

· Arah Kebijakan

                            - Strategi 1

                            - Strategi 2

                            - Strategi 3

  · Matrik yang mampu menjawab 5W+1H, 5 M (Man, Money, Material, Method, Machine), PDCA

· Mencakup Aspek spasial, hubungan pusat dan daerah, keterkaitan/koordinasi program+ kegiatan K/L & “Stake Holder” terkait (Swasta/BUMN/ BUMD)

· Ada Kesetaraan level perundangan dalam kerangka perencanaan nasional ( UU, PP, Perpres, Permen)

· Punya kekuatan “mengikat” antar K/L dan stake holder

3. Agenda Riset Nasional (ARN) yang ada pada periode-periode sebelumnya, selalu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari  Kebijakan Strategis Nasional  (Jakstranas). Kombinasi antara Kebijakan yang diatur oleh Jakstranas dan Teknis dimuat agenda riset di ARN. Dengan demikian ada kejelasan Visi. Misi. Arah, Prioritas,

4. EVALUASI ARN Komtek Material Maju, telah disusun dan sedang dalam evaluasi bersama Kemen Ristek Dikti

 

5. Pelaksanaan FGD Komtek Material Maju, diputuskan mengambil Topik : “Apakah Industri Lokal Membutuhka Riset”. Dengan Pembicara : Bapak Buntoro Setiomuljo, Presiden Direktur PT. Mega Andalan Kalasan, Bapak Hendro Wijayanto, Presiden Direktur CV Karya Hidup Sentosa dan Direjen Penguatan Inovasi Dr. Jumain Appe.