BERITA DRN TERKINI

Oleh Drs. Iskandar, Apt,MM 

( Anggota Komisi Teknis Teknologi Kesehatan & Obat DRN 2012-2014 dan Direktur Utama PT. Bio Farma (Persero) )

ABSTRAK

Rumus umum yang kita kenal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yaitu riset dasar dilakukan oleh akademisi dan lembaga-lembaga riset, kemudian hasilnya mengalir ke industri, untuk diwujudkan menjadi produk yang mempunyai nilai lebih untuk kesejahteraan rakyat. 

Di Negeri ini hal tersebut belum terwujud secara jelas dan mulus, sehingga hasil penelitian kandas sebagai konsep di laboratorium. Proses inovasi nasional tersendat, demikian pula produktivitas riset rendah. Kekayaan keanekaragaman hayati, keanekaragaman geologi dan keanekaragaman budaya hanya sebagai jargon ilmiah yang enak untuk diucapkan, sementara kenyataan di lapangan masih berupa mimpi yang sulit diwujudkan, apalagi bisa menjadi penopang untuk kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.Sebenarnya rumus di atas dapat dibalik. Jika kalangan industri mau berpikir panjang untuk kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kemakmuran bangsa, sepantasnya berpikir bahwa ketergantungan kita terhadap iptek dari luar, sama halnya dengan menyerahkan kedaulatan kepada bangsa lain. Kita hanya jadi mata rantai proses produksi terakhir sistem kapitalis yang penuh risiko, nilai tambah kecil dan dikendalikan orang lain.Untuk melepaskan diri dari belenggu tersebut, kita dapat belajar dari industri biotek milik kita, Bio Farma, yang dalam sepuluh tahun terakhir berusaha melepaskan diri dari  ketergantungan iptek dari luar, hasilnya sudah mulai terlihat.Dalam hal social responsibility, Bio Farmaberpikir diluar kotak, bagaimana iptek yang dimiliki industri menjadi inspirasi teknologi tepat guna untuk memberikan solusi bagi masyarakat.

Kata kunci : ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi nasional, keanekaragaman hayati, keanekaragaman geologi,keanekaragaman budaya

 

1. PENDAHULUAN

     Sebagai suatu industri, Bio Farma dituntut untuk pro-aktif dalam percepatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kedaulatan dan kesejahteraan bangsa. Bio Farma dapat menjadi contoh role model industry yang merebut teknologi, dapat mengembangkan produk, menciptakan dan menginisiasi kemandirian vaksin yang berkelanjutan, berdaulat dalam hal penyediaan vaksin untuk kebutuhan nasional dan memberikan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

     Bio Farma merupakan suatu Badan Usaha Milik Negaradengan misi utama memproduksi vaksin (human vaccines) yang digunakan untuk imunisasi nasional dan global, guna mencegah penyebaran penyakit yang dapat menimbulkan kesakitan, kecacatan, atau bahkan kematian. Bio Farma merupakan 1 dari sekitar 20 produsen vaksin yang kualitasnya diakui oleh World Health Organization(WHO) sehingga produknya dapat masuk ke pasar global dan berkontribusi terhadap pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) di negara berkembang. Sampai saat ini produk Bio Farma telah digunakandi 131negara, dan 65% revenue berasal dari ekspor. Produk-produk yang telah mendapatkan kualifikasi dari WHO dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Produk-produk yang mendapatkan kualifikasi WHO

 

Produk lainnya yang sedang dalam proses kualifikasi WHO adalah vaksin pentavalen yaitu kombinasi vaksin diphtheria, tetanus, pertussis, hepatitis B dan Haemophylus influenzae type B (DTP-Hep B-Hib).

 

2. ISI

     Dengan keanekaragaman hayati virus dan bakteri, Bio Farma telah melakukanpemurnian, pemuliaan, pengembangan manfaat, pengembangan produk, untuk menghasilkan produk-produk baru sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan berdaulat. Untuk dapat terus memberikan kontribusi yang berharga di bidang kesehatan di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan di dunia, maka Bio Farma secara berkelanjutan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya di bidang vaksin namun diperluas di bidang Life Science Products.

   Seiring perkembangan jaman, iptek di bidang kesehatan semakin berkembang pesat. Sejalan dengan road map penelitian dan pengembangan perusahaan, ke depannya ruang lingkup perusahaan akan diperluas untuk mewujudkan industri yang dapat menghasilkan life science products.Untuk mewujudkan hal tersebut dan tercapainya percepatan riset, perlu dilakukan kerja sama nasional dan internasional.

      Dalam hal kemandirian vaksin nasional, Bio Farma telah menjadi pelopor untuk menggerakkan sektor-sektor strategis domestikmelalui harmonisasi riset untuk mempercepat riset vaksin. Tanpa percepatan, riset vaksin biasanya minimal 12 tahun. Oleh karenanya dengan kerja sama quadruple helixAcademic, Bussiness, Government, Community, yang melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, diharapkan dengan Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) yang sudah menginjak tahun ke-4, sejak tahun 2011, dapat lebih cepat menghasilkan vaksin baru. Dengan FRVNtelah terbentuk lima (5) konsorsium yaitu Hepatitis B, New TB, Dengue, HIV, dan Eritropoietin. Juga terbentuk tujuh (7) working group yaitu Influenzae, Malaria, Rotavirus, Stem Cell, Pneumococcus and Delivery System, Human Papiloma Virus dan Kebijakan. Peran Stakeholder dalam riset dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Peran Stakeholder dalam Riset

 

     Tema FRVN Ke-4 adalah "Implementasi Hasil Riset Vaksin dalam Rangka Kemandirian Vaksin Nasional". Tujuannya untuk melihat implementasi hasil riset dari masing-masing konsorsium yang sudah terbentuk, serta diseminasi aspek regulasi produk riset dan pengembangan vaksin di Indonesia dapat terpola dengan jelas dan mempunyai strategi implementasi yang baik. Dengan menyelaraskan visi misi dan mengimplementasikannya secara terpadu yang melibatkan pemerintah, lembaga riset/universitas & industri, diharapkandapat segera menghasilkan produk unggulan yang bermanfaat bagi masyarakat di dalam maupun luar negeri.Melalui FRVN diharapkan pula dapat mengubah/revolusi karakter bangsa. Para peneliti tidak lagi terkotak-kotak namun memiliki visi dan misi yang sama.

     Selain kerja sama nasional, juga dilakukan kerja sama regional dan global. Di lingkup regional, Bio Farma bekerja sama dengan Australia, Jepang, Thailand dan Malaysia. Di lingkup global dengan DCVMN (Developing Countries Vaccine Manufacturers Network), OIC (Organization of Islamic Cooperation), berbagai Biotech CompanyPasteur Institute Network,International Vaccine InstituteBill and Melinda Gates Foundation.

    Kerja sama regional dan globalmencakupaspek kebijakan, teknologi dan ekonomi. Dalam hal aspek kebijakan diharapkan Indonesia dapat turut berperan dalam menetapkan kebijakan mengenai vaksin dan life science products lainnya di dunia. Bio Farma berperan aktif dalam organisasi DCVMN, tahun 2012-2014 dan 2014-2016 dipercaya sebagai Presiden DCVMN. Berperan aktif pula di GAVI sebagai Board of Member, International Vaccine Institute (IVI) sebagai Board of Trustee. Islamic Development Bank’s Self-Reliance in Vaccine Programs (IDB-SRVP) sebagai Chairman. Berperan aktif di Badan Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO) dan di UNICEF. Dalam hal aspek teknologi, Bio Farma mendapatkan transfer teknologi dari perusahaan Bioteknologi untuk pengembangan vaksindi dalam negeri. Selain itu Bio Farmajuga dipercaya untuk mentransfer teknologi yang dimiliki mengenai proses hilir, melakukan knowledge sharing mengenai bioteknologi ke industri di negara-negara Islam dan industri di negara-negara berkembang. Dengan Negara OKI, bersama-sama menjajaki untuk mendirikan centre of excellence  di Saudi Arabia.

    Ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan semakin berkembang pesat. Road mappenelitian dan pengembangan, ke depannya akan diperluas untuk mewujudkan industri yang dapat menghasilkan life science products untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan masyarakat dunia.Beberapa cluster yang akan dibuat adalah cluster of vaccine, cluster of immunosera, cluster of biosimilar, cluster of stem cell dancluster of kit diagnostic.Untuk hal ini diperlukan infrastruktur dan lahan baru, didukung dengan teknologi informasi dengan menerapkan ERP (Enterprise Resource Planning) dan e-BPR (Electronic Batch Processing Record), menerapkan supply chain management, dan didukung dengan human capital yang dapat mewujudkan hal tersebut.

     Salah satu life science products yaitu stem cell atau sel punca semakin memiliki peran penting dalam bidang kesehatan. Oleh karenanya Bio Farma berupaya untuk dapat memiliki teknologi tersebut. Langkah yang telah dilakukan adalah kerja sama stem cell atau sel punca dengan Royan Institute Iran dimulai sejak tahun 2011 diawali dengan kunjungan Bio Farma ke Iran. Tahun 2012 kunjungan manajemen Royan Institute ke Bio Farma. Tahun 2013 ditandatangani nota kesepahaman antara Bio Farma dan Royan Institute. Tahun 2014-2015 perwakilan Bio Farma mendapatkan training di Iran. Dan rencana ke depannya akan dilanjutkan dengan kerja sama yang lebih spesifik untuk pengembangan stem cell. Di dalam negeri, Bio Farma bersinergi dengan ABGC melalui FRVN, telah membentuk Konsorsium Stem Cell dan telah memasuki tahun ke-2.

       Dalam hal aspek ekonomi, Bio Farma menyediakan produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Oleh karenanya produk-produk Bio Farma dapat digunakan selain di negara maju, juga sebagian besar digunakan di negara berkembang.

    Ketersediaan dan penguatan human capital atau intellectual asset untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang life science products perlu terus dijaga dan dikembangkan. Secara intern perusahaan, Bio Farma memiliki program menyekolahkan karyawan program pasca sarjana S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan di Luar Negeri. Output dari karyawan yang telah disekolahkan ini adalah karyawan dapat menerapkan ilmu yang telah diperolehnya, untuk memperkuat riset dan pengembangan, proses produksi dan juga proses pendukung lainnya. Data peserta pendidikan formal S2 dan S3 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Peserta Pendidikan Formal S2 dan S3

 

     Human capital atau intellectual asset dapat menerapkan ilmu yang dimilikinya dengan didukung sarana dan prasarana yang sesuai dengan standard. Selain personel yang harus terkualifikasi, sarana dan prasarana pendukung riset juga harus terkualifikasi.

     Dalam proses riset ini, perlu adanya harmonisasi dengan berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Bio Farma sudah mulai mencari partner peneliti di perguruan tinggi yang kegiatan risetnya berhubungan erat dengan industri dan dapat diimplementasikan.

     Kemampuan Bio Farma untuk menghasilkan produk-produk vaksin saat ini telah memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi Negara Indonesia. Anggaran pemerintah untuk vaksin tahun 2012 senilai Rp. 512,8 juta, tahun 2013 senilai Rp. 548,2 juta, tahun 2014 senilai Rp. 547,5 juta. Tahun 2013-2014 termasuk di dalamnya adalah bantuan dari GAVI. Apabila didatangkan dari luar negeri / impor, maka nilai yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk pelaksanaan program imunisasi akan jauh lebih besar. Oleh karenanya penemuan life science products perlu dipercepat agar kebutuhan masyarakat Indonesia dapat terpenuhi.

  Pemerataan kesehatan dengan konsep preventifdiupayakan untuk mendapatkan vaksinberkualitas dengan mudahterutama di daerah pinggiran, desa, kawasan timur Indonesia dan kawasan perbatasanmenjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesehatan bangsa.

    Selain menjalankan kegiatan perusahaan secara rutin, Bio Farma memiliki komitmen untuk dapat meningkatkan kesejahteraan Bangsa secara umum.Sebagai tanggung jawab sosial perusahaan (Sosial Responsibility) ditetapkan empat pilar yang sesuai dengan core business yaitu kesehatan, lingkungan, pendidikan dan ekonomi.

    Bio Farma berpikir diluar kotak, bagaimana iptek yg dimiliki industri menjadi inspirasi teknologi tepat guna untuk memberikan solusi bagi masyarakat. Teknologi tepat guna biosecureterbukti ampuh untuk memberikan solusi bagi petani ikan koi sukabumi, green house untuk pemuliaan dan pembibitan tanaman, teknik pemilihan dan pemuliaan bibit, pembuatan working seed, penerapan instalasi pengolahan air limbah, penggunaan kembali air buangan untuk dijadikan air baku, penggunaan pewarna ramah lingkungan dan dengan teknologi nanopartikel untuk pembatik.

    Kekayaan keanekaragaman hayati, keanekaragaman geologi dan keanekaragaman budaya jangan hanya sebagai jargon ilmiah, tetapi harus diwujudkan, untuk dapatmenjadi penopang untuk kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.Industri harus pro-aktif untuk melakukan inovasi di bidang tersebut.Bekerja sama dengan para pakar yang ahli di bidangnya. Diselaraskan visi dan misinya.

      Sebagai contoh, untuk konservasi alam yang memiliki keanekaragaman geologi yang tinggi, industri harus dapat juga mengangkat budaya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

 

3. PENUTUP

     Langkah pro-aktif suatu industri sangat berperan dalam percepatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kedaulatan dan kesejahteraan bangsa. Suatu industri harus dapat melepaskan diri dari ketergantungan iptek dari luar negeri dan harus berupaya untuk dapat mengambil alih teknologi tersebut. Didukung dan bekerja sama dengan sektor pemerintah, lembaga riset dan perguruan tinggi untuk kemandirian bangsa. Seiring perkembangan jaman maka ruang lingkup penelitian dan pengembangan harus diperluas di bidang life science productsHuman capital yang capable harus selaras, memiliki visi dan misi yang sama untuk pencapaiannya. Teknologi tepat guna yang diterapkan industri harus dapat dimanfaatkan dan memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia.

 

DAFTAR REFERENSI

Road map riset Bio Farma

Data CSR Bio Farma