BERITA DRN TERKINI

Artikel ini diambil dari buku yang di terbitkan oleh Dewan Riset Nasional tahun 2011 yang berjudul "IPTEK UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM Kajian Kebutuhan Tema Riset Prioritas"

Penyusun:

Tusy A. Adibroto, Wahyu Purwanta, Ressy Oktivia, Diah Asri Erowati, Feddy Suryanto, Sudaryono, Rudy Nugroho, Hartaya, Saraswati Diah Rini H.

Penyunting:

Tusy A.Adibroto

Perubahan iklim yang terjadi akibat naiknya suhu atmosfer semenjak revolusi industri, maka perkembangan iptek kala itu menjadi pemicunya. Kini harapan manusia untuk menghadapi dan mengantisipasi dampak perubahan iklim juga kembali tertuju pada peran iptek. Berbagai pusat riset dunia saat ini hampir pasti bersinggungan dengan tema riset perubahan iklim, termasuk di Indonesia sendiri.

Hasil kajian DRN tahun 2010 yang dituangkan dalam dokumen Peranan Iptek Dalam Menjawab Pemanasan Global misalnya sudah disampaikan berbagai peran iptek dalam kaitan merespon perubahan iklim di Indonesia [5].  Sebagai contoh, apa yang telah dilakukan BMKG dengan membuat zona musim (ZOM) di Indonesia agar mudah dalam prediksi luasan area persawahan. ZOM juga didasarkan atas rekomendasi Kelompok Kerja Prakiraan Musim Nasional (KKPMN) yang terdiri dari BMKG, LAPAN, BPPT, Balitklim, ITB dan IPB. Dokumen ZOM sangat penting bagi sektor pertanian.

Contoh lain peran iptek antara lain dalam penerapan teknologi modifikasi cuaca yang dilakukan di BPPT baik dalam mengatasi kekeringan atau mencegah hujan (memindah awan) agar tidak terjadi volume hujan yang berlebih (banjir). Di sektor energi saat ini juga banyak penerapan iptek dalam riset energi baru dan terbarukan. Dua iptek utama dalam penerapannya bidang energi ini adalah pembangkit

listrik non bahan bakar fosil seperti tenaga surya, panas bumi dan hidro serta pengembangan bahan bakar nabati (biofuel).  Pengembangan biofuel, dengan sentuhan iptek saat ini juga berasal dari mikroalga. Pada tema ini, saat ini LIPI fokus pada pencarian spesies yang optimum, sedangkan BPPT fokus pada optimasi teknologi fotobioreaktor sedangkan ITB juga fokus pada teknologi konversi menjadi minyak diesel.

Iptek sistem informasi geografi yang digabungkan dengan teknologi inderaja juga diterapkan dalam penentuan lokasi perikanan tangkap yang sangat berguna bagi nelayan [6]. Respon perubahan iklim memerlukan kebijakan, sedangkan iptek perubahan iklim memerlukan riset baik dasar maupun terapan. Hubungan keterkaitan antara permasalahan perubahan iklim, kebijakan antisipasi dan perlunya riset ditunjukkan dalam Gambar 3.1.

 

 


[5]Lihat “Peran Iptek Dalam Menjawab Pemanasan Global”-DRN (2010), tentang hasil FGD para periset ITB dan UNPAD yang menyimpulkan bahwa banyak riset yang telah mereka lakukan tidak langsung berkaitan dengan perubahan iklim, walaupun mereka sadar akan isu perubahan iklim.

[6] SIKBES-Ikan (Intelligent Fish Tracker) dikembangkan oleh TISDA-BPPT