BERITA DRN TERKINI

Menyediakan pangan bagi penduduk yang jumlahnya terus bertambah merupakan perjuangan tanpa henti, bagaikan berlari kencang dalam sebuah jentera   raksasa. Setiap kali kita berhasil maju beberapa langkah ke depan pada saat yang hampir bersamaan sudah berada kembali di tempat awal. Pada saat sebuah negara berhasil mencapai swasembada pangan, pada saat itu pula negara tersebut sudah berada kembali di tepian kondisi ketidak-seimbangan antara produksi dan konsumsi pangan.

Revitalisasi Semangat Lama

Saya menggunakan istilah “membangun kembali” dalam penyampaian pandangan saya untuk mengingatkan  semua pihak  bahwa di masa lalu pemerintah dan masyarakat pernah berjuang bersama membangun pertanian Indonesia dengan sasaran swa sembada beras. Sasaran tersebut diperjuangkan bersama dan berhasil  dicapai tahun 1984. Setelah lebih dari 20 tahun, sasaran tersebut  harus diperjuangkan kembali oleh generasi penerus. Pada saat itu upaya meningkatkan produksi pangan-beras dilaksanakan dengan program Swa Sembada Beras (SSB) dan program Swa Sembada Bahan Makanan (SSBM). Dalam perkembangan selanjutnya istilah swa sembada mulai jarang atau tidak pernah digunakan lagi dalam bahasa perencanaan pembangunan pertanian diganti dengan istilah ketahanan dan kemandirian pangan yang lebih lentur dan dinamis. Mereka yang patriotik merasa lebih nyaman menggunakan istilah kedaulatan pangan. Cita-cita dan semangat swa sembada beras menjadi kian meredup.

Sejak merebaknya isu kontra impor beras dan heboh kenaikan tajam harga beras, cita-cita dan semangat tersebut mulai digelorakan kembali oleh para pakar dan pemerhati pertanian, tokoh organisasi tani, dan politisi. Tidak dapat dipungkiri lagi, bagi negara yang bergantung pada beras sebagai bahan pangan pokok, beras merupakan komoditi pertanian yang sangat strategis dan menjadi penentu bagi keberhasilan program pembangunan pertanian. Keberhasilan pemerintah meningkatkan produksi pertanian dan komoditi pangan non-beras menjadi kurang bermakna untuk masyarakat luas apabila pemerintah gagal menyediakan pangan-beras dalam jumlah cukup dengan harga stabil dan terjangkau oleh masyarakat luas. Menyediakan pangan-beras adalah sebuah perjuangan tanpa henti, karena itu harus terus menjadi fokus pembangunan pertanian.

Pengembaraan di Alam Maya

Sebagaimana umumnya peneliti yang berhati lugu tetapi berpikir rasional, saya mencoba menerawang ke depan sambil mengembara dalam alam maya, alam hipotetik untuk melihat suatu permasalahan dengan jernih, kemudian disusul dengan merangkai dugaan, asumsi, ataupun hipotesis berkaitan dengan kebijakan impor dan kenaikan harga beras, yang keduanya saling berhubungan.

Pada saat yang sama saya mencoba memikirkan solusi yang tepat guna mengatasi penyebab timbulnya kebijakan yang kontroversial ini. Selama pengembaraan di alam hepotetik tersebut saya menduga kuat bahwa kebijakan impor beras dan kenaikan harga beras dipicu oleh ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi, walaupun banyak kalangan berpendapat cadangan beras di masyarakat masih melimpah.

Situasi saat ini sudah sangat berbeda dengar kondisi tahun 1984.  Saat itu Indonesia bisa memberikan bantuan pangan kepada negara Afrika yang mengalami krisis pangan karena dilanda kekeringan. Sejak akhir abad lalu pertumbuhan produksi beras mulai tidak seimbang dengan kecepatan pertambahan jumlah penduduk. Kebijakan impor beras merupakan upaya pemerintah mengatasi kesenjangan tersebut.

Pada suatu kesempatan tertentu, saya pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang rekan yang praktisi lapangan dan sekaligus juga penggerak asosiasi petani yang kurang setuju dengan kebijakan impor beras. Saya minta kepadanya agar pertanyaan saya dijawab dengan jujur berdasarkan suara hati nurani. Pertanyaan saya adalah, “Apakah produksi beras domestik bisa mencukupi kebutuhan konsumsi nasional?”.  Dia menjawab lirih sambil tersenyum, “Tidak, Pak”. Di akhir pengembaraan, saya hanya berharap agar solusi melalui impor beras hanya bersifat sementara, kebijakan darurat yang berjangka dekat-menengah.

Semua orang paham, cara ini merupakan solusi yang paling mudah dan juga murah tidak memerlukan perjuangan dan kerja keras (asal punya uang dan beras di pasar tersedia). Membangun kemandirian pangan dengan tetap bergantung pada impor merupakan kemandirian yang semu dan rawan, karena dalam jangka menengah panjang pasokan beras ke pasar global akan terus menyusut, selain itu harga beras di pasar bebas juga akan terus merambat naik.

Pengembaraan saya berbuah dengan suatu sikap, bahwa pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus berjuang bersama dengan segala daya untuk mulai membangun kembali keadaan swa sembada beras secepatnya, jika tidak maka keamanan pangan hanya tersedia bagi si kaya tetapi menjadi suatu kemewahan bagi si miskin. Setiap upaya pembangunan harus diarahkan kepada peningkatan produksi pangan domestik agar ketergantungan pada impor makin berkurang.

Pengembangan Teknologi

Asumsi dugaan dan solusi yang dikembangkan di alam maya atau alam hipotetik menjadi pandu dalam penjelajahan saya di alam nyata. Saya mencoba menengok ke belakang mencermati hal-hal penting yang terjadi sebelum dan setelah Indonesia mencapai kondisi swa sembada beras. Data fakta dan informasi yang terkumpul selama penjelajahan dan eksplorasi tersebut saya rangkai menjadi instrumen untuk menguak misteri di balik kebijakan impor beras. Dengan data dan informasi tersebut saya juga menatap ke masa depan memikirkan arah pengembangan teknologi yang diperlukan untuk mendukdung perjuangan bersama mewujudkan kembali Indonesia swa sembada beras.

Sebanyak 95% produksi beras nasional berasal dari lahan sawah, dihasilkan dengan menggunakan teknologi produksi yang dikembangkan tahun 1960-an, suatu teknologi yang berbasis padi moderen-semidwarf. IR-8 (di Indonesia dikenal dengan nama PB-8) merupakan varietas padi moderen-semidwarf pertama yang dirakit dan diintroduksikan oleh IRRI (International Rice Research Institute) pada tahun 1966.

Keberhasilan peneliti IRRI ini menjadi awal dari bergulirnya Revolusi Hijau di Asia. Teknologi ini difokuskan pada empat komponen dasar: (1) introduksi padi moderen menggantikan padi tradisional yang telah ada, varietas padi moderen memiliki daya hasil tinggi dan responsif terhadap N; (2) peningkatan penggunaan pupuk mineral, terutama N; (3) pengunaan bahan kimia untuk perlindungan tanaman; dan (4) pembangunan dan rehabilitasi infra struktur irigasi. Varietas padi moderen-semidwarf hanya beradaptasi dengan baik pada lingkungan sawah irigasi atau sawah tadah hujan dengan drainase baik.

Faktor kunci yang menentukan keberhasilan introduksi padi moderen adalah peningkatan penggunaan pupuk dan infrastruktur irigasi. Sampai tahun 1987 adopsi padi moderen telah mencapai 76% dari total area pertanaman padi di Indonesia, melampaui total luas sawah beririgasi, yaitu 73%. Penggunaan pupuk NPK (dalam kg unsur) sudah mencapai 137 kg/ha, lebih tinggi dari Cina (kira-kira 100 kg/ha), dua kali lebih banyak dari Bangladesh dan delapan kali lebih banyak dari India. Bangladesh, Cina, India, dan Indonesia menyerap 70% produksi padi dunia.

Dengan demikian secara umum dapat dikatakan petani Indonesia telah mengelola lahan sawahnya secara intensif sampai sangat intensif. Varietas moderen yang dilepas setelah IR-8 memiliki daya hasil yang lebih rendah tetapi memiliki sifat tertentu yang lebih baik seperti kualitas beras, berumur lebih genjah, dan lebih tahan terhadap hama dan  penyakit sehingga berkontribusi besar terhadap peluasan tanaman padi moderen.

Dampak Pemanfaatan Teknologi

Adopsi padi moderen dan introduksi teknologi revolusi hijau berhasil meningkatkan produksi padi nasional dari 19,1 juta ton pada tahun 1969-71 menjadi 44,9 juta ton (1989-1991). Dalam kurun waktu yang sama produktivitas meningkat dari 2,4 ton/ha menjadi 4,3 ton/ha.

Setelah masa itu baik produktivitas maupun produksi padi nasional tidak banyak berubah. Laju kenaikan produktivitas sangat lambat 4,3 ton/ha (1990); 4,4 ton/ha (2000) dan 4,6 ton/ha pada tahun 2006. Demikian pula dengan kenaikan produksi, yaitu secara berturut-turut 44,9 juta ton; 51,9 juta ton; dan 54,7 juta  ton. Selama tujuh tahun (2000-2006) laju kenaikan produktivitas hanya kira-kira 0,7% sedangkan untuk produksi kira-kira 0,8% jauh di bawah laju perkiraan pertumbuhan penduduk, 1,3%. Data dan fakta ini menjelaskan bahwa impor beras merupakan kebijakan atau upaya darurat yang tidak mungkin dihindari.

Proyek pengembangan lahan gambut satu juta hektar di Kalimantan Tengah tahun 1995 merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi secepatnya masalah ketimpangan antara produksi dan konsumsi beras nasional. Pada saat itu Indonesia sudah mengimpor beras sebanyak dua juta ton setiap tahun. Secara tersirat kebijakan impor beras juga tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (2004-2009). Dalam dokumen tersebut sasaran Revitalisasi Pertanian dinyatakan terjaganya tingkat produksi beras dalam negeri pada tingkat ketersediaan minimal 90 persen dari kebutuhan domestik untuk pengamanan kemandirian pangan. Ini berarti bahwa kekurangannya sebanyak 10 persen atau kurang harus disediakan dari sumber non-domestik atau impor.

Saat ini semua potensi empat komponen dasar teknologi produksi padi yang dikembangkan tahun 1960-an sudah dimanfaatkan. Namun para petani, terutama di Jawa masih terus berusaha menggenjot produktivitas tanaman padinya melalui peningkatan penggunaan pupuk N dengan takaran yang tidak masuk akal, misalnya di Jombang 500 kg/ha, setara 225 N/ha (Kompas 11 April 2007).

Tahun lalu saya diberi tahu oleh praktisi lapangan bahwa petani Sragen memupuk tanaman padinya dengan takaran 600 kg urea /ha. Saya lebih terkejut lagi setelah doktor ilmu tanah, yang juga seorang mantan peneliti utama menyatakan bahwa di Nganjuk petani menggunakan pupuk urea dengan takaran satu ton/ha.

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh para petani, setiap saat teknologi segar dan hasil penelitian baru dialirkan ke lahan sawah tetapi baik produktivitas maupun produksi padi tidak banyak berubah. Pemanfaatan teknologi produksi padi sawah berbasis padi moderen-semidwarf sudah mencapai puncaknya di abad lalu.

Tantangan

Persoalan mendesak dan tantangan nyata pertanian Indonesia saat ini bukan masalah impor atau tidak impor beras, tetapi mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor beras dari pasar global dan membangun kembali swa sembada beras. Upaya serius ke arah itu ialah dengan mengatasi kesenjangan yang telah ada antara produksi dan konsumsi beras nasional dengan program peningkatan produksi beras sebanayak dua juta ton (setara dengan kira-kira 3,3 ton gabah kering giling) pada tahun 2007. suatu target kenaikan rata-rata tahunan tertinggi dalam sejarah perpadian Indonesia.

Target  kenaikan produksi beras sebanyak itu sangat sukar bisa dicapai, dengan pertimbangan berikut :

  1. Teknologi produksi. Hampir seluruh produksi padi nasional (+ 95%) dihasilkan dari sawah irigasi dengan menggunakan teknologi yang berbasis padi moderen-semidwarf. Semua potensi empat komponen dasar dari teknologi yang dikembangkan tahun 1960-an tersebut sudah dimanfaatkan. Teknologi ini sudah mencapai puncak kemanfaatannya pada dekade akhir abad lalu. Petani Jawa masih terus berusaha mengenjot produktivitas tanamannya dengan meningkatkan takaran pupuk N, 2,5 – 5 kali takaran wajar, tetapi dalam tujuh tahun terakhir laju kenaikan rata-rata dari produktivitas dan produksi padi nasional berturut-turut hanya sekitar 0,7 dan 0,8%.
  2. Perluasan sawah irigasi.Selain pengunaan pupuk, faktor lain yang menjadi kunci keberhasilan introduksi dan adopsi teknologi padi moderen adalah pembangunan dan rehabilitasi infra struktur irigasi. Di masa lalu, dalam pelaksanaan program swa sembada beras pemerintah telah mengeluarkan investasi yang sangat besar untuk membangun waduk bendungan dan memperluas jaringan irigasi. Atas dasar pertimbangan ini saya berpendapat peluang besar ini, yang mungkin masih sangat terbuka bagi keberhasilan program peningkatan produksi beras dua juta ton tahun 2007, akan terkendala waktu dan kelangkaan dana publik yang diperlukan untuk itu.
  3. Alih fungsi lahan.Kompas 9 April 2007 memuat berita tentang permohonan konversi lahan irigasi ke Badan Pertanahan Nasional untuk penggunaan non-pertanian telah mencapai 3,099 juta hektar per 2004. Membaca berita ini bagaikan mendengar bunyi lonceng kematian bagi semangat kemandirian bangsa (di bidang pangan) yang ramai digelorakan oleh para pemimpin bangsa. Saya tidak percaya bahwa dunia ini penuh dihiasi dengan sikap kontroversi. Pada suatu saat masyarakatnya demo anti-impor beras tapi pada saat lain tidak peduli areal sawahnya dialih-fungsikan untuk usaha non-pertanian. Saya hampir-hampir tidak percaya bahwa saya sedang hidup di alam nyata bukan sedang hidup di sebuah “Republik Mimpi” yang rakyatnya tidak lagi makan nasi.

Berdasarkan fakta data dan informasi di atas ada suatu pandangan atau keyakinan saya yang perlu digarisbawahi, yaitu bahwa swa sembada beras yang lestari tidak mungkin  diwujudkan jika hanya bertumpu pada teknologi produksi berbasis padi moderen-semidwarf. Penggunaan teknologi ini telah mencapai puncak kemanfaatannya.

Upaya keras meningkatkan produksi padi di lahan sawah akan menghadapi risiko terjadinya degradasi tanah dan penurunan kemampuan lahan sawah dalam mendukung kehidupan umat manusia. Sudah saatnya sebagian beban berat tersebut dialihkan ke lahan kering tadah hujan, suatu potensi sumberdaya alam yang   dalam sejarah pertanian Indonesia diperlakukan sebagai anak tiri yang diterlantarkan, kecuali untuk pengembangan tanaman  perkebunan. Ia dibiarkan dorman kurang dimanfaatkan.

Para Peneliti Badan Litbang Pertanian dan lembaga penelitian yang lain telah merintis pengembangan teknologi pemanfaatan lahan marginal dan lahan kering tadah hujan untuk produksi pangan (beras). Hasil kegiatan tersebut dapat menjadi modal awal dalam memulai gerakan baru membangun potensi lahan kering dan lahan marginal yang lain.

Saya memimpikan Indonesia suatu saat nanti memiliki Rice Estate bukan hanya palm oil estate dengan memanfaatkan kawasan hutan yang dikonversi menjadi perkebunan sawit tetapi saat ini masih diterlantarkan. Masa depan kemandirian pangan sangat bergantung pada keberhasilan pengembangan (teknologi) pertanian lahan kering. Saat ini masyarakat Indonesia sedang menunggu  berkah dari anak tiri yang diterlantarkan.

Jakarta,  Mei 2007  

Widjang Herry Sisworo

Anggota Dewan Riset Nasional/

Komisi Teknis Ketahanan Pangan