BERITA DRN TERKINI

Salah satu tantangan paling besar di sektor pertanian pada saat ini adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras nasional dari produksi dalam negeri.  Konsumsi beras akan terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, karena sampai saat ini upaya diversifikasi pangan pokok (sumber karbohidrat) belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Dari sisi lain pertumbuhan produksi padi nasional mulai menunjukkan gejala stagnan.  Pada era tahun 2000-an ini, hanya meningkat rata-rata kurang dari 1% per tahun.  Lebih rendah dibandingkan pada dasawarsa 90-an yang rata-rata meningkat 1,47% per tahun dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode tahun 80-an, di mana pertumbuhan produksi rata-rata mencapai 4,34% per tahun.

 

Pelambanan laju peningkatan produksi padi nasional berkaitan dengan beberapa faktor: Pertama, tidak bertambahnya luas lahan budidaya padi selama periode tahun 2000-an, maknanya adalah upaya perluasan lahan budidaya padi hanya sebanding dengan laju konversi lahan produktif untuk kepentingan non-pertanian.  Total luas panen tanaman padi hanya bervariasi sedikit di sekitar 11,5 juta hektar, hanya meningkat sebesar 0,1% selama periode 2001 sampai 2006.

Kedua, upaya untuk meningkatkan produktivitas masih menghadapi berbagai kendala, baik teknis-agronomis maupun sosial-ekonomi-budaya.  Produktivitas padi rata-rata saat ini hanya sekitar 4,5 ton/hektar, masih jauh dibawah potensi hasil varietas padi unggul yang telah dilepas yang berkisar antara 6,0 - 9,0 ton/hektar.  Varietas unggul yang paling banyak dibudidayakan petani adalah IR64 (introduksi dari IRRI) yang dilepas pada tahun 1986 dengan potensi hasil yang tidak terlalu tinggi, yakni hanya 6,0 ton/hektar.

Dihadapkan pada dua kondisi utama ini: kelambanan perluasan lahan dan kesulitan dalam meningkatkan produktivitas lahan, maka muncul gagasan untuk menggunakan padi hibrida sebagai alternatif pilihan dalam upaya meningkatkan produksi padi nasional, paling tidak untuk menjawab tantangan meningkatkan produksi beras sebesar 2 juta ton pada tahun 2007 ini, sebagaimana yang telah dicanangkan pemerintah.  Pilihan untuk penggunaan padi hibrida lebih banyak didasarkan atas potensi hasilnya yang sangat tinggi, yakni sekitar 12 – 15 ton/hektar.

Mengenali padi hibrida.  Padi hibrida merupakan hasil persilangan dari dua induk (genetically-fixed varieties) yang mampu menunjukkan sifat superior (efek heterosis), terutama potensi hasilnya.  Akan tetapi efek heterosis ini akan hilang pada generasi berikutnya.  Oleh sebab itu, benih yang dihasilkan padi hibrida tidak dapat digunakan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya.  Hal ini menyebabkan bisnis benih hibrida menjadi menarik, karena petani akan tergantung pada pasokan benih dari produsennya.

Padi merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri (self-pollinated) dimana serbuk sari dan ovarium dihasilkan pada bunga yang sama.  Oleh sebab itu, diperlukan tanaman jantan-steril sebagai salah satu induk agar proses hibridisasi dapat berlangsung sempurna.  Pengembangan padi hibrida dimulai sekitar tahun 1970, saat ditemukan tanaman jantan steril dari populasi padi liar (Oryza sativa f. Spontanea) di Hainan, Cina.  Padi liar ini disebut sebagai wild rice with abortive pollen atau disingkat padi WA.  Padi WA ini disilang dengan padi lain untuk menghasilkan jantan steril yang disebut sebagai galur maintainer.

Melalui proses persilangan yang diulang terus menerus (backcross) dengan induk dari galur maintainer ini diperoleh tanaman padi dengan karakter jantan steril yang stabil, yang disebut galur padi cytoplasmic male sterile atau disingkat CMS.  Tanaman padi CMS ini digunakan sebagai salah satu induk untuk menghasilkan padi hibrida.  Induk lainnya disebut sebagai galur restorer yang berfungsi memulihkan fertilitas galur CMS setelah disilangkan.  Benih yang dihasilkan merupakan benih hibrida F1 yang mempunyai sifat superior (daya hasil tinggi), tetapi potensi hasil ini tidak dapat diturunkan ke generasi berikutnya (F2 dan seterusnya).

Hal yang perlu diantisipasi.  Potensi hasil padi hibrida memang menjanjikan, tetapi apakah keunggulan tersebut tidak punya kelemahan? Ada beberapa hal nyata yang perlu diantisipasi.  Pertama, benih hibrida (F1) akan menghasilkan biji (F2) yang tidak dapat digunakan kembali sebagai benih untuk musim tanam berikutnya, berarti petani akan selalu tergantung pada produsen benih hibrida.  Kedua, untuk mencapai potensi hasilnya, padi hibrida membutuhkan aplikasi sarana produksi (terutama pupuk) dan infrastruktur pendukung (irigasi) yang memadai.  Ketiga, pada beberapa negara, termasuk Cina, padi hibrida lebih peka terhadap hama dan penyakit, sehingga mendorong penggunaan pestisida yang lebih tinggi.

Hasil kajian yang dilakukan oleh Peking University, menunjukkan bahwa peningkatan hasil dengan penggunaan padi hibrida berkaitan erat dengan peningkatan aplikasi agrokimia, aplikasi pupuk pada padi hibrida 43% lebih tinggi dibandingkan dengan pada padi inbrida.  Aplikasi pestisida pada padi hibrida juga dilaporkan 31% lebih tinggi.  Bandingkan dengan potensi peningkatan hasilnya yang berkisar antara 15-20%.

Peningkatan aplikasi agrokimia akan berkorelasi langsung dengan peningkatan ongkos produksi dan berpotensi untuk meningkatkan pencemaran lingkungan.  Jika harga beras tetap dipertahankan untuk stabil pada posisi sekarang; sedangkan ongkos produksi meningkat -karena peningkatan kuantitas dan harga pupuk dan pestisida yang diaplikasikan, ditambah biaya benih hibrida- maka kegiatan budidaya padi akan semakin tidak menarik bagi petani.

Untuk menggenjot peningkatan produksi beras agar status swasembada kembali dapat diraih, Pemerintah telah mencanangkan empat strategi, yakni : [1] perbaikian mutu benih dengan menggenjot penggunaan padi hibrida, [2] perbaikan sarana irigasi, [3] sosialisasi teknologi dan pendidikan bagi petani, dan [4] penyaluran inovasi baru ke lapangan.

Untuk upaya perbaikan mutu benih yang digunakan dalam proses produksi, telah disiapkan dana untuk subsidi benih dan untuk perbaikan sarana irigasi telah dialokasikan anggaran yang cukup signifikan.  Langkah ini tidak keliru, tetapi mungkin belum secara langsung menjangkau permasalahan yang sangat fundamental, yakni: produksi padi hanya akan meningkat jika peran petani dalam proses produksi ini dioptimalkan.

Peran petani hanya akan optimal jika ada insentif baginya agar tingkat kesejahteraannya meningkat.  Bahasa sederhananya adalah jika petani memperoleh peningkatan pendapatan dari partisipasinya dalam kegiatan produksi tersebut. Alternatifnya adalah jika harga beras akan dipertahankan maka ongkos produksi harus diturunkan.  Operasionalisasinya adalah Pemerintah mensubsidi biaya benih, pupuk, dan pestisida.  Jika pilihannya adalah padi hibrida, maka patut diantisipasi bahwa nilai subsidi ini akan semakin besar.

Alternatif lainnya adalah melepaskan kendali harga beras, maknanya harga beras akan meningkat.  Pilihan ini agaknya akan kecil kemungkinan untuk dipilih, karena ongkos politiknya terlalu mahal.

Pilihan untuk memberikan subsidi juga tidak bisa secara parsial, misalnya hanya mensubsidi biaya benih, plus memperbaiki sarana irigasi, tetapi membebankan biaya pupuk dan pestisida kepada petani.  Jika hal ini dilakukan, maka ada kemungkinan benih hibrida akan ditanam oleh petani tetapi kemudian pupuk dan pestisida yang dibutuhkan tidak diaplikasikan oleh petani karena keterbatasan kemampuan finansialnya.  Akibatnya, potensi hasil yang tinggi dari padi hibrida tidak akan menjadi kenyataan di lapangan, -malah jika nasib lagi sial- padi hibrida ini puso karena diserang hama dan penyakit.

Masih ada satu pertanyaan yang tersisa, yakni: apakah subsidi untuk benih hibrida ini adalah subsidi untuk petani atau subsidi untuk industri benih melalui petani?

 

Jakarta, 2007

Benyamin Lakitan

Anggota Dewan Riset Nasional/

Ketua Komisi Teknis Ketahanan Pangan

Penulis dapat dihubungi melalui This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.