BERITA DRN TERKINI

Keragaan Produksi Padi

Tien R. Muchtadi

Produksi padi tahun 2006 diperkirakan mencapai 54,66 juta ton GKG (Gabah Kering Giling) atau setara dengan 35,53 juta ton beras (asumsi rendemen  65%). Tabel 1 menunjukkan angka ramalan (Anram) BPS, 2006 produksi padi naik sebesar 0,95% terhadap produksi tahun 2005. Kenaikan produktivitas padi karena intensifikasi sebesar 0,81% menjadi 4,61 ton/Ha dan kenaikan berasal dari peningkatan luas panen (ekstensifikasi) sebesar 0,13% menjadi 11.854.911 Ha.

 

Tabel 1. Produksi, luas panen, dan produktivitas padi 2001-2006

Uraian

2001

2002

2003

2004

2005

2006*

Pertum-buhan (%)

Produksi GKG (000 Ton)

50.461

51.490

52.138

53.907

53.985

54.660

0.9

Luas Panen

( 000 Ha)

11.288

11.442

11.534

11.874

11.840

11.855

0,1

Produktiv-itas (Ton/Ha)

4,47

4,5

4,52

4,54

4,56

4,61

0.8

*) ANRAM III BPS, 2006  
   
   

Pertumbuhan (kenaikan) rata-rata produksi padi periode 2001-2006  sebesar 0,9% merupakan pertumbuhan produksi terendah jika dibandingkan dengan periode 1990-2000 (1,47%/tahun) dan periode 1980-1990 (4,34%/tahun). Hal ini menunjukkan  bahwa akhir-khir ini kemampuan produksi padi  nasional menurun, tidak dapat mengimbangi kenaikan konsumsi beras (2%) yang disebabkan oleh  pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi beras per kapita. Kondisi ini memaksa Indonesia harus mengimpor beras sebanyak rata-rata dua juta ton/tahun.

Kebijakan Peningkatan Produksi Beras

Upaya membangun kemandirian dan ketahanan pangan, atau bahkan untuk mampu berkontribusi pada pengurangan angka kelaparan dunia, maka pemerintah seyogyanya lebih mengutamakan untuk mendorong program peningkatan produksi padi/beras di dalam negeri daripada harus mengimpor. Peningkatan produksi beras di dalam negeri selain memberi manfaat pada penghematan devisa nasional,  juga dapat membuka kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Peningkatan produksi beras sebanyak dua juta ton / tahun mempunyai makna bahwa produksi padi tahun 2007 harus meningkat sebanyak 5,6% terhadap produksi tahun 2006 yaitu 54,66 juta ton GKG atau setara dengan 33,53 juta ton beras.Target kenaikan produksi beras sebanyak dua juta ton  merupakan target yang terlalu optimis (sangat tinggi) karena  pertumbuhan produksi tertinggi yang pernah dicapai (1980-1990) hanya sebesar 4,34%.

Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa peningkatan produksi beras seyogyanya memberi dampak terhadap peningkatan  kesejahteraan petani produsen. Selama ini  kesejahteraan petani cenderung menurun sebagaimana diindikasikan dengan penurunan nilai tukar petani. Nilai tukar pada bulan Agustus 2006 turun 0,53% dari 103,15 dalam bulan Juli 2006 menjadi 102,6 dalam bulan Agustus 2006 (BPS, 2006).  Bahkan bila dibandingkan dengan tahun 1995 dan 2001 kondisi kesejahteraan petani saat ini sangat merosot karena nilai tukar petani tahun 1995 mencapai 120 sedangkan  tahun  2001 mencapai 150.

Dengan demikian berarti kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terhadap gabah kering giling (GKG) (Rp. 2250/kg dan gabah kering panen (GKP) (Rp 1730/kg) masih belum mampu mengimbangi kenaikan input produksi dan harga barang dan jasa lainnya.

SKENARIO PROGRAM  PENINGKATAN PRODUKSI BERAS  DUA JUTA TON/ TAHUN

Peningkatan produksi beras sebesar dua  juta ton/tahun  dapat dicapai dengan program khusus pemerintah yang mengacu program peningkatan produksi padi  pada era tahun 80-an meliputi program utama  on farm mencakup intensifikasi khusus (Insus) dan ekstensifikasi serta program pendukung (a.l. insentif dan subsidi).

1. Program Utama

Peningkatan produksi beras sebesar 2 juta atau  5,6% per tahun secara teknis (on farm) dapat dilakukan  dengan 3 (tiga) skenario (Tabel. 2) yaitu  a)  peningkatan produktivitas padi melalui program intensifikasi khusus (Skenario 1),  b)  perluasan areal padi melalui  ektensifikasi (Skenario 2), dan c) kombinasi antara intensifikasi dan ekstensfikasi (Skenario 3).

Tabel 2. Kebutuhan areal tanaman padi untuk kenaikan  produksi beras sebesar 2 juta ton/tahun dengan 3 skenario

Skenario

Kebutuhan Areal (Ha) per tahun

Kenaikan Produksi beras

(juta ton)

Priori-tas*)

Intensifikasi

Ekstensifikasi

1

641.025

-

2

2

2

-

769.230

2

3

3

448.718

230.769

2

1

 

*)    ditetapkan berdasarkan biaya minimum, kemudahan pelaksanaan dan pengalaman program peningkatan produksi 1980-2006

 

Skenario 1

Peningkatan produktivitas padi melalui intensifikasi khusus (INSUS) pada areal padi yang telah adadengan input produksi khusus : benih unggul dengan produktivitas tinggi, pupuk berimbang  dan efisien (precision farming) serta pengendalian hama dan penyakit (PHT). Dengan benih padi hibrida atau benih unggul hasil rekayasa BATAN (Mira-1), produktivitas padi dapat mencapai minimal 7 ton/Ha GKG,  setara dengan 4.55 ton beras/ha atau naik sebesar 52% dari produktivitas padi saat ini.  Insus dilakukan pada areal beririgasi teknis baik di Jawa maupun luar Jawa dengan intensitas tanam minimal 2 kali per tahun. Jika alternatif ini yang dipilih  maka diperlukan areal Insus seluas 641,25 hektar atau 5,4 % dari total luas panen tanaman padi yang ada (11.854.911 Ha). Dengan demikian untuk peningkatan produksi luas sebanyak dua juta ton, setiap tahun diperlukan peningkatan areal Insus sebesar 641.025 hektar.

Skenario 2.

Program ekstensifikasi melalui pencetakan sawah baru  atau padi ladang. Program ekstensifikasi disarankan dilakukan di luar Jawa karena potensi lahan kering di luar jawa diperkirakan mencapai 31 juta Ha,Ekstensifikasi dapat dilakukan di propinsi yang kaya dan luas seperti Kalimantan, Jambi, Irian Jaya dan Sumatera Selatan.

Apabila skenario ini yang dipilih, maka lahan yang diperlukan untuk perluasan areal padi adalah 769.230 Ha/tahun dengan asumsi satu kali tanam padi setahun dengan produktivitas padi rata-rata 2,6 ton beras/Ha. Apabila areal padi yang dikembangkan beririgasi teknis, maka perluasan areal menjadi separuhnya (384.615 Ha) karena penanaman padi dapat dilakukan dua kali/tahun. Untuk menunjang peningkatan produksi padi di lahan kering, LIPI sedang mengembangkan benih padi yang tahan terhadap kekeringan dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik (dalam tahap uji multilokasi). BPPT juga telah siap dengan teknologi budidaya padi di lahan lebak yang banyak terdapat di luar Jawa.

Skenario 3.

Peningkatan produksi beras sebesar dua juta ton/tahun juga dapat dilakukan dengan melaksanakan kombinasi  program intensifikasi dan ekstensifikasidengan perbandingan 70% dan 30%.  Untuk alternatif ini, lahan Insus yang diperlukan seluas 448.718 Ha/tahun, dan untuk ekstensifikasi diperlukan 230.769 Ha untuk padi ladang atau 115.385 Ha untuk padi sawah. Dari ketiga skenario ini, Skenario 3 merupakan skenario terbaik dilihat dari sudut  biaya dan kemudahan pelaksanaan serta pengalaman dari melaksanakan program peningkatan produksi selama 1980-2006.

b. Program Pendukung

Pelaksanaan  program utama  peningkatan produksi beras sebanyak dua juta ton/tahun masih perlu didukung oleh program lainnya antara lain a) program peningkatan teknologi pasca panen padi (off farm) untuk mengurangi susut, b) program diversifikasi pangan untuk mengurangi konsumsi beras (saat ini konsumsi beras per kapita Indonesia paling tinggi di dunia, 137 kg/kapita/tahun) untuk mengurangi tekanan permintaan terhadap beras (on dan off farm) c) peningkatan skema insentif untuk petani produsen, d) kebijakan tarif untuk perlindungan usaha tani padi  dan e) peningkatan manajemen pangan nasional (Tabel 3).

Tabel 3. Program pendukung peningkatan produksi beras 2 juta ton/tahun

No

Program

Substansi

1

Peningkatan Teknologi Pascapanen Padi (off farm)

Adopsi teknologi pascapanen padi (alat dan mesin)  untuk mengurangi susut dan meningkatkan nilai tambah

2

Diversifikasi pangan pokok alternatif (on dan  off farm)

Penganekaragaman pangan pokok baik horizontal maupun vertikal untuk mengurangi konsumsi beras

3

Skema insentif untuk petani produsen di on dan off farm

Harga Pembelian Pemerintah yang wajar, subsidi langsung saprodi, insentif pascapanen kepada petani

4

Kebijakan tarif

Tarif bea masuk impor yang wajar untuk melindungi petani

5

Manajemen Pangan/beras

Penyediaan data yang akurat,pengaturan dan pengawasan yang lebih baik pada semua lini  distribusi, perdagangan  dan impor sarana produksi dan beras serta penguatan koordinasi kelembagaan pangan.

 

KEBIJAKAN RISET DAN TEKNOLOGI UNTUK MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKSI BERAS

KNRT telah menyusun roadmap teknologi peningkatan produksi padi hingga tahun 2025. Pada rentang 2005-2009 dan 2010-2015 laju produksi padi diharapkan dapat mengikuti laju konsumsi sehingga swasembada beras dapat dipertahankan. Pada tahun 2016-2025, produksi padi/beras ditargetkan lebih besar dari konsumsi sehingga kelebihan beras dapat diekspor. Program dan Capaian kegiatan Ristek peningkatan produksi padi disajikan pada Tabel 4.      

Tabel 4. Program Ristek untuk Padi dan Capaian hingga saat ini

Program

Capaian

Lembaga

On Farm

Peningkatan Produktivitas padi : benih unggul, pupuk hayati, good agricultural practices

  Benih padi: Mira-1 (>7 ton/Ha), Diahsuci dll

   Benih padi tahan kekeringan, tahan penyakit blast (uji multilokasi)

 Pupuk Hayati

 Teknologi budidaya lahan Lebak

 Precision Farming

BATAN

 

LIPI

 

 

BPPT, BATAN

BPPT

 

BPPT

Off Farm(Pascapanen)

Pengurangan susut, peningkatan mutu dan  nilai tambah

 Mesin Perontok Padi

 Mesin Pengering Gabah

 

BPPT, LIPI

 

Diversifikasi Pangan Pokok Alternatif (RUSNAS) – on dan off farm

Benih unggul, budidaya, pascapanen, sosio-ekonomi

    Mie jagung instant, tepung ubi jalar, nasi jagung instant, dan bassang instan

 

BPPT, IPB, UNHAS

Pendukung (on farm)

    Teknologi pemantauan iklim

     Teknologi Modifikasi Cuaca

LAPAN

 

BPPT

 

Jakarta,  2007  

Prof. Dr. Ir. Tien R. Muhtadi

Anggota Dewan Riset Nasional/

Komisi Teknis Ketahanan Pangan