BERITA DRN TERKINI

 

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada dasarnya haruslah memberikan kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi bangsa, Negara, individu, dan kesejahteraan masyarakat. Iptek juga harus menjadi solusi bagi permasalahan masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, kontribusi iptek terhadap pembangunan ekonomi perlu menjadi prioritas seluruh pemangku kepentingan iptek, baik pemerintah, pelaku litbang, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga penunjang dan masyarakat luas

Dalam rangka memberikan kontribusi untuk perekonomian, aspek pemanfaatan, komersialisasi, dan hilirisasi teknologi mutlak sangat diperlukan. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat ini mendorong proses hilirisasi dan komersialisasi teknologi bisa melalui berbagai cara. Salah satunya dengan mengoptimalkan kembali atau merevitalisasi Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi nasional. Fungsi Puspiptek diarahkan selain untuk memperkuat aspek riset dan pengembangan teknologi, juga memperkuat aspek hilirisasi dan komersialisasi serta bisnis teknologinya.

Berita Selengkapnya... (Sumber: ristekdikti.go.id)

 

Suatu agenda, yang dirancang dalam waktu singkat oleh DRN-Kemenristekdikti dan SCI, telah memberikan hasil berbagai alternatif menuju percepatan pengembangan riset sel punca di Indonesia. Didahului oleh suatu pertemuan antara DR.Bambang Setiadi (Ketua DRN) , Menristekdikti Prof.DR. Muhamad Nasir dan DR. Boenyamin Setiawan (anggota Komtek Kesehatan DRN, Pendiri Kalbe Farma), pada saat berlangsungnya Workshop HilirisasI DAN Komersialisasi Hasil Riset  dan Innovasi Untuk Meningkatkan Daya Saing Sektor Produksi Barang dan Jasa .di Jakarta pada tanggal 10-11 Desember 2015,  maka pada tanggal 6 Januari 2016 Menristekdikti dan jajaran pimpinan Kemenristekdikti telah mengunjungi fasilitas dan bertemu dengan pimpinan dan para periset di Stem Cell and Cancer Institute (SCI) PT.Kalbe Farma di Jakarta.

Dalam laporannya, Ketua DRN menyampaikan bahwa riset mengenai sel punca adalah bagian dari strategi lompatan Indonesia untuk menguasai teknologi canggih di bidang kesehatan. Karena itu penangananya tidak boleh bekompetisi, namun harus dalam bentuk kolaborasi yaitu dalam suatu konsorsium. Ketua DRN juga mengusulkan kepada Kemenristekdikti  Suatu Workshop Sel Punca dan Seminar  tentang Kimia Sintesa perlu diselenggarakan DRN pada tahun 2016 ini. Menristekdikti Prof.Muhamad Nasir dalam sambutannya mengemukakan 3 hal tentang sel punca di Indonesia, yaitu perlunya percepatan, konsorsium dan prospek ke depan.

Percepatan

Saat ini, Indonesia masih tertinggal dalam bidang riset, termasuk dalam bidang obat dan kesehatan. Salah satu indikasinya, hampir 92 persen bahan baku pembuatan obat berasal dari luar negeri, yang berdampak pada mahalnya harga obat bagi rakyat. Kini, peluang untuk mengatasi ketertinggalan tersebut ada pada kemampuan mengembangkan sel punca untuk terapi sejumlah penyakit. Kemandirian bahan baku diharapkan membuat obat semakin murah untuk rakyat.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pengembangan sel punca harus dipercepat. Agar dapat menjadi modal mempertahankan produktivitas guna memaksimalkan bonus demografi.

 Kemajuan riset sel punca perlu dikejar agar Indonesia tidak makin tertinggal di bidang tersebut. Negara-negara lain sudah memacu riset sel punca, antara lain Iran, Korea Selatan, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura

Konsorsium

Guna mendukung pengembangan penelitian sel punca, Menteri  berharap akan adanya sebuah konsorsium bagi 11 Rumah Sakit di Indonesia yang telah mengembangkan sel punca. Bentuk konsorsium sangat tepat, sehingga ada keseimbangan antara semua peneliti, baik peneliti dari perguruan tinggi, dari swasta seperti SCI, dan dari pemerintah,"

Konsorsium ini melibatkan akademisi, pihak swasta, dan 11 rumah sakit yang telah ditunjuk untuk menjadi Pusat Pengembangan Pelayanan Medis Penelitian dan Pendidikan Bank Jaringan dan Sel Punca oleh Kementerian Kesehatan (Kemkes) melalui Permenkes Nomor 32 Tahun 2014.

Ke-11 rumah sakit adalah RS Ciptomangunkusumo Jakarta dan RSUD Dr Soetomo Surabaya sebagai pembina, kemudian RS Jantung Harapan Kita, RS Fatmawati, RS Persahabatan, RS Kanker Darmais, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr Sarjito Yogyakarta, RS Dr Karyadi Semarang, RS Sanglah Bali, dan RS Dr M Djamil Padang.

 Menteri  meminta Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ratna Sitompul dalam waktu dekat untuk bisa mempertemukan seluruh peneliti sel punca dari 11 rumah sakit. Harapann Menteri agar pengembangan stem cell yang tengah dilakukan oleh PT Kalbe Farma dan 11 rumah sakit di Jakarta bisa maju pesat dalam lima tahun ke depan. Bahkan, Indonesia bisa menghasilkan stem cell yang kemudian diekspor ke belahan negara di dunia.

 Prospek

Menteri Riset Teknologi sangat surprise terhadap kemajuan teknologi yang ada di Indonesia, khususnya di bidang kesehatan, yaitu yang menyangkut stem cell and cancer, Penyakit-penyakit yang ada di Indonesia khususnya penyakit degeneratif dapat diperbaiki dengan teknologi ini,. Sampai tahun 2030 kita harus menyiapkan sumber  daya yang produktif dan sehat, Sel punca akan menjadi harapan untuk  menghasilkan sumber daya manusia dengan produktivitas yang tinggi dan sehat dalam bonus demografi sampai 2030.

Pemanfaatan biodiversity di Indonesia harus digali terus. Supaya obat itu tidak jadi mahal, kalau obat mahal akibatnya masyarakat tidak dapat menjangkau. Stem cell yang digarap para periset bisa menjadi produk inovasi yang memiliki manfaat untuk Indonesia. Pada saatnya, sel punca bisa menjadi produk eksport ke negara-negara lain. Ke depan, pemerintah akan memfasilitasi pengembangan Dewan Riset Nasional  di bidang kesehatan dan obat (BSI).

 

Jakarta (19/2/16) – Kemenristekdikti melakukan terobosan baru bagi pengembangan riset di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dalam pelaksanaan riset, demikian keterangan Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan saat Konferensi Pers di Gedung D lantai 2, Senayan, Jakarta.

Terobosan baru tersebut adalah melalui adanya akun barang dengan perlakuan khusus untuk riset, Mekanisme Block Grant, dan adanya SBK (dengan klasifikasi Manuscript, model, Publikasi Nasional, Publikasi Nasional Terakreditasi, Publikasi Internasional, Publikasi Internasional bereputasi, Riset berbasis inovasi berdasar tingkat kesiapan teknologi, dsb.)

Disampaikan oleh Dimyati bahwa ternyata lebih dari separuhnya 58% sumber teknologi utama itu yang digunakan di indonesia itu berasal dari luar negeri. Artinya dominasi inovasi ada di Republik Indonesia masih berasal dari luar negeri.  “Padahal kita punya peneliti begitu banyaknya punya perguruan tinggi, lebih banyak dari perguruan tinggi Negara ASEAN tapi faktanya inovasi yang berasal dari riset yang digunakan di indonesia banyak berasal dari luar negeri. Uang yang dikumpulkan dinegeri ini, keluar untuk bayar royalty ke luar negeri.”

Berita Selengkapnya... (Sumber: ristekdikti.go.id)