BERITA DRN TERKINI

Pada hari Rabu tanggal 8 November 2017,  Dewan Riset Daerah ( DRD ) dan Bappeda Provinsi Bangka Belitung berkesempatan berkunjung dan bertemu dengan Ketua Dewan Riset Nasional Bambang Setiadi. Pada kesempatan kali ini Dewan Riset Daerah dan Bappeda Provinsi Bangka Belitung yang diwakili oleh ketua Dewan Riset Daerah dan perwakilan Bappeda menyampaikan Rencana DRD Bangka Belitung mengundang DRN untuk hadir dalam acara rakordal Provinsi Bangka Belitung Sekaligus pengukuhan DRD Provinsi Bangka Belitung serta menindak lanjuti rencana Pemerintah yang akan membangun PLTN di Provinsi Bangka Belitung, karena melihat kurangnya asupan listrik di Bangka Belitung.  

Pendapat Ketua Dewan Riset Nasional mengenai DRD, DRD Bangka Belitung bisa mengundang DRD Sumatera dan mengenai rencana Pemerintah membangun PLTN di Bangka sangat setuju,  saat ini Indonesia sangat memerlukan energy listrik murah guna memenuhi kebutuhan listrik nasional tanpa menggunakan dan merusak  sumberdaya alam dan Lingkungan yang ada sehingga merusak kelestarian alam. Dan menyarankan perlu adanya sosialisasi langsung kemasyarakat dan Seminar-seminar dari pemerintah Daerah kemasyarakat tentang pentingnya PLTN ( Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir ),dan tidak berbahaya bagi masyarakat sekitar PLTN untuk kemajuan masyarakat Bangka Belitung, dengan membawa isu-isu yang berkembang saat ini tentang amannya PLTN bagi masyarakat sekitar apabila PLTN sudah dibangun dan masyarakat perlu menjaga kelestarian alam dan lingkungan dari penambang-penambang Timah illegal, yang dapat membahayakan warga sekitar penambangan dan perlu mengembangkan hasil-hasil dari pertanian dibangka seperti Lada dan Sawit guna meningkatkan daya beli masyarakat setempat dan kemajuan Provinsi Bangka Belitung. ( FA )

 
 

 

 

 

 

Pada hari Kamis 2 November 2017,  DRD Kabupaten Sumbawa berkesempatan berkunjung dan bertemu dengan Sekretaris Dewan Riset Nasional Iding Chaidir. Pada kesempatan tersebut DRD Kab Sumbawa menyampaikan bahwa Kabupaten Sumbawa melalui Bappeda Kabupaten, baru saja melantik anggota  Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Sumbawa Periode 2017 – 2021.

Arief Witarto, Ketua DRD Kabupaten Sumbawa meminta arahan dari DRN terkait kelembagaan Dewan Riset di Daerah. Keberadaan DRD di Kabupaten Sumbawa terbilang baru sehingga masih perlunya belajar dari Dewan Riset di Daerah lain. Jejaring riset merupakan isu lain yang disampaikan. Mereka mengungkapkan keinginan untuk memperluas jejaring di bidang akademisi, pemerintahan, bisnis maupun komunitas .

Menanggapi permasalahan yang ada, Sekretaris DRN memberi beberapa masukan antara lain perlunya DRD memiliki website. Melalui website, DRD dapat mempromosikan kegiatan yang dilakukan. Hal tersebut dapat membuka banyak peluang bagi DRD, salah satunya adalah jejaring riset.

Saran lain yang diberikan yaitu perlunya Dewan Riset Daerah membentuk forum komunikasi regional. Melalui forum komunikasi tersebut, DRD dapat bertemu dan mengatasi masalah regional secara bersama-sama. Contohnya adalah Forum Komunikasi DRD Regional se-Sumatera dimana pada  tahun ini, memfokuskan dalam mengatasi permasalahan Ubi Kayu.

Pada akhir pertemuan Sekretaris Dewan Riset Nasional berpesan agar daerah perlu terus menerus melakukan inovasi. Melalui inovasi di berbagai bidang, daya saing daerah dapat meningkat sekaligus mensejahterakan masyarakat. (AW)

 
Lihat Foto Lainnya

 

 

Harnyoto selaku Kepala Bidang Penelitian bersama Sudirman selaku Kepala Sub Bidang Inovasi dan Teknologi BAPPEDA Provinsi Bengkulu pada hari Senin, 18 September 2017 pagi mengunjungi kantor DRN untuk berkonsultasi mengenai proporsi keanggotan Dewan Riset Daerah di Provinsi Bengkulu.  Menanggapi perihal tersebut, Sekretaris Dewan Riset Nasional (DRN), Iding Chaidir memberikan saran bahwa keanggotaan DRD sebaiknya berasal dari latar beragam yang berbeda, yang terdiri dari Akademisi, Bisnis, Pemerintahan dan Komunitas. Keanggotaan Dewan Riset Daerah diusulkan memenuhi kebutuhan riset di Daerah. Diharapkan dari keanggotaan Dewan Riset tersebut dikelompokkan menjadi beberapa komisi. Adapun susunan Komisi Dewan Riset Daerah yang diusulkan antara lain Komisi Pangan Dan Kesehatan, Komisi Energi, Komisi Ekonomi Dan Komisi Kemanusiaan.

Tidak lupa, Sekretaris DRN memberikan motivasi agar tiap daerah semangat untuk melakukan inovasi dan mendorong daerah untuk meluaskan relasi khususnya di bidang scientific. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong  perekonomian daerah dan daya saing bangsa. (AW)

 
Lihat Foto Lainnya

 

Pada hari Rabu tanggal 11 Oktober 2017. Dalam rangka memperkuat kelembagaan serta meningkatkan fungsi dan perannya Dewan Riset Daerah Kabupaten Sragen mengadakan audiensi dengan Dewan Riset Nasional di Jakarta.Datang pada acara audiensi dengan DRN ini antara lain Bp. Tuhana, SH, M.Si selaku Ketua DRD Kabupaten Sragen, Dr. Eny Purwandari, S.Ps, M.Si selaku Sekretaris DRD Sragen didampingi Ketua dan Sekretaris Sekretariat DRD Kab. Sragen yaitu Drs. Wahyudi, M.Sc dan Wawan Kurniawan, S.ST, M.Si. Pada pembukaan pertemuan disampaikan oleh Bp. Tuhana, SH, M.Si bahwa kehadiran mereka ke DRN dalam rangka: pertama, silaturahim, banyak anggota DRN dan BPPT yang dikenal oleh Ketua DRD Sragen ini; kedua, memberitahukan keberadaan DRD Sragen ke DRN agar dikenal dan diberi penguatan; ketiga, Sharing program dan kegiatan antara DRN, DRD, dan Pemerintah Daerah Kab. Sragen terkait IPTEK dan Kelitbangan; dan keempat, mohon arahan bagaimana DRD Sragen agar optimal dalam mensupport Pemda Sragen, sejauh mana peran yang bisa diambil DRD dan posisi kelembagaan DRD yang ideal.

Audiensi DRD Sragen diterima secara pribadi oleh Ketua DRN Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU dan didampingi Sekjen DRN Dr. Ir. Iding Chaidir di ruang rapat Sekretariat DRN. Dalam sambutannya Ketua DRN menyampaikan bahwa DRD harus aktif dalam memberikan sumbangsih saran dan pemikiran kepada Bupati baik diminta ataupun tidak. Ketika kepala daerah sedang terhambat dalam menyelesaikan visi misinya maka itulah saat yang tepat bagi DRD untuk mengambil peran, memberikan saran, solusi, dan ide kreatif yang menunjang pemerintah daerah. Posisi DRD langsung dibawah Bupati atau kepala daerah yang dikuatkan dengan dikeluarkannya SK Bupati tentang pengisian struktur organisasi DRD. Dijelaskan juga oleh Ketua DRN bahwa DRD merupakan pemikir, pemberi saran rekomendasi, bukan eksekutor langsung. DRD harus berusaha menciptakan iklim pemanfaatan IPTEK yang baik untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. DRD harus mengambil peran yang strategis, memberi alternatif pemikiran dan mendukung terciptanya inovasi-inovasi di segala bidang. Misalnya perlu dipikirkan bagaimana Sragen menjadi Kota Transit karena banyak kendaraan yang melewati Sragen, jangan biarkan pemakai jalan hanya lewat begitu saja.

Dengan rumus bahwa ( innovation = invention x commersialization ), bahwa sebuah inovasi itu temuan yang berhasil dikomersialisasikan. Jadi hasil inovasi harus didorong untuk menjadi sebuah produk yang bisa dijual. Dengan begitu maka masyarakat/inovator akan meningkat kesejahteraan ekonominya. Dalam rancangan Undang-Undang Inovasi yang digagas oleh DRN didalamnya mengatur bahwa pendanaan inovasi tidak melulu harus dari APBN, bisa dari sumber yang lainnya dan jikapun dari APBN negara tidak dapat semena-mena memotong anggaran riset ditengah jalan agar riset yang sejak berjalan tidak terganggu. Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU diakhir perbincangan menyatakan jika butuh tenaga ahli bidang apapun untuk mendukung kemajuan Sragen, silakan menghubungi DRN dan akan dibantu semaksimal mungkin. DRN sangat bangga jika DRD bisa berperan dan eksis di daerah serta aktif koordinasi dan komunikasi seperti yang dilakukan Sragen hari ini. ( FA )
 
Lihat Foto Lainnya

 

 

JELE’VAN (NAGA) KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR

Kronologis Cerita

Sumber utama cerita merupakan seorang anak muda bernama Slamet 23 tahun seorang pekerja emas diseputaran sungai Mahakam, cerita ini bermula pada pertengahan bulan Desember 2009 lalu diwaktu senjang diluar dari rutinitas bekerja mencari emas Slamet beserta seorang teman sesama pencari emas sedang berburu dimana diwaktu perjalanan pulang dari berburu hendak kembali ke sampan (perahu) di seputaran kawasan hulu sungai mahakam tepatnya hulu Riam Haloq meraka bertemu dengan seekor ular besar yang biasa disebut masyarakat jeleva’an (naga) sedang melintas disungai mahakam mengarah ke hulu sungai, menurut slamet yang pada saat kejadian sempat mendokumentasikan momen tersebut dengan sebuah handphone miliknya yang saat ini sudah tersebar dimasyarakat dan telah dipubliklasikan di media masa, besar ular tersebut diperkirakan 3 kali lebih besar dari drum minyak yang biasa digunakan untuk menyimpan bahan bakar bagi para pemilik kapal diseputaran Long Bagun dan panjang ular tersebut mencapai 60M sampai dengan 80M, warna kulit ular hitam dengan mata yang cukup besar sesuai dengan ukuran ular tersebut.

 
Selengkapnya