BERITA DRN TERKINI

 

 

 

Dewan Riset Nasional (DRN) melakukan Rapat Tim Adhoc yang pertama di tahun 2020 pada Jumat (19/07/2020) via Online Meeting. Pertemuan rapat online ini membahas mengenai koordinasi progress buku panduan triple/penta helix.

Di dalam tulisan Prof. Sudharto P. Hadi yang diterbitkan Harian Kompas, 17 Juli 2020 berjudul “Menunggu Tuah Kawasan Industri” diuraikan bahwa industri-industri di Kawasan Industri pada umumnya bercirikan footloose, tidak memiliki keterkaitan dengan basis ekonomi lokal seperti pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan. Tidak ada backward-forward linkage (hubungan huluhilir) sehingga nilai tambahan lokalnya minim. Kawasan-kawasan industri yang sedang dan akan dibangun (direncanakan 27 kawasan industri sampai dengan tahun 2024) diharapkan menampung relokasi industri dari negara lain terutama dari China. Relokasi industri yang “sudah jadi” semacam ini tidak akan melakukan transformasi dengan potensi lokal seperti bahan baku, teknologi maupun skilled labour. Implikasinya Indonesia hanya akan menjadi pasar dari produk-produk mereka. Disamping itu inovasi teknologi dibawa/ diambil dari negara industri tersebut berasal. Hal ini tentu tidak sejalan dengan kebijakan knowledge base economy untuk peningkatan daya saing bangsa.

Buku Panduan Triple/Penta Helix Inovasi merupakan kelanjutan dari buku berjudul Buku Bunga Rampai Inovasi – Pergulatan Pemikiran Berbagai Perspektif (2018). Buku Bunga Rampai Inovasi merupakan kristalisasi pemikiran DRN selama dua tahun yang diharapkan menjadi referensi penyusunan revisi Undang-Undang 18 tahun 2002 tentang Sisnas Iptek yang kemudian menjadi UU 11 tahun 2019. Buku tersebut menguraikan tentang the-state-of-the-art inovasi, posisi Indonesia dalam inovasi, isu-isu krusial mewujudkan inovasi dan berbagai pemikiran dari berbagai bidang yang ditulis oleh para anggota DRN periode 2015-2019. Salah satu isu kritis yang diuraikan dalam buku tersebut adalah masalah triple atau penta helix dalam inovasi. Bertolak dari pemikiran tersebut maka buku yang sedang digarap ini membahas khusus tentang hal tersebut. Diawali dengan pengantar dan pendahuluan yang mengemukakan tentang 2 - 3 pentingnya triple atau penta helix sebagai pelaku inovasi, kemudian akan diuraikan potret triple/ penta helix dari berbagai sektor yang direpresentasikan oleh Komtek-Komtek di DRN. Buku ini diharapkan menjadi pedoman implementasi inovasi di berbagai sektor.

Ketua DRN memberikan paparan mengenai Journal of Innovation and Entreperneruship, memaparkan peran strategis inovasi dalam rangka meningkatkan PDB. Contoh negara/kelompok negara tersebut, antara lain: EU, USA, Afrika, dan Asia. Pada intinya bahwa produk inovasi mengungkit PDB melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas negara melalui berbagai penemuan teknologi baru. Untuk itu, berbagai negara/kelompok negara membangun strategi peningkatan ekosistem inovasi yang kondusif agar proses penciptaan teknologi baru menghasilkan inovasi berkelanjutan. Kebijakan publik memiliki peran sentral dalam menumbuhkan ekosistem inovasi yang kondusif di masa depan melalui alokasi anggaran Litabngjirap yang semakin besar.

Berbagai masukan antara lain, (1) agar dilakukan peninjauan ulang tentang terminoloi Death Valley karena proses inovasi saat sudah pada tingkat open innovation dari sebelumnya supply push dan demand driven/pull; (2) perlunya membangun Indonesia Incorporated; (3) Perlu menggaris bawahi perlunya pengukuran digitalisasi sebagai rujukan peningkatan inovasi. Dalam perhitungannya ditunjukkan bahwa kenaikan 1% digitalisasi (inovasi) di Indonesia akan meningkatkan 0,07% pertumbuhan ekonomi dan menurunkan inflasi 0,15%;

Sebagai tindak-lanjut dari rapat ini, disepakati Tim Adhoc akan melaporkan kemajuan pembuatan Buku Panduan Triple/Penta Helix pada Rapat BP DRN, Selasa, 21 Juli 2020 dan penulisan sistematika Buku Panduan akan ditambahkan pula: (i) peran inovasi dalam meningkatkan PDB, (ii) Tantangan dijitalisasi, (iii) Indonesia Incorporated, dan (iv) lesson-learned dan usulan model triple/penta helix dari masing-masing Komtek DRN.

 

(AES/SPH/edit:K)

 

 
Foto Lainnya