BERITA DRN TERKINI

 

 

 

Dewan Riset Nasional (DRN) melakukan Rapat Komisi Teknis Pangan dan Pertanian yang pertama di tahun 2020 pada Rabu (06/05/2020) via zoom meeting. Pertemuan rapat online ini pun menghadirkan Husnain (wakil dari Badan Litbang Pertanian), Siti Herlinda dan Udiansyah. Rapat ini dilatarbelakangi bahwa kejadian pandemi Covid-19 telah melumpuhkan perekonomian global, termasuk Indonesia. Untuk itu, DRN berinisiasi untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan pangan dalam beberapa bulan ke depan, bila tidak dilakukan peningkatan kegiatan produksi pangan secara masif. Hal ini mengingat bahwa kekurangan pangan juga akan terjadi di seluruh negara terdampak Covid-19.

Pengalaman kegagalan pembukaan sawah lahan gambut 1 juta hektar di masa lalu hendaknya menjadi pelajaran. Pertemuan ini diharapkan dapat merumuskan rekomendasi kepada Pemerintah via Kemenristek dan Kementan untuk melakukan produksi pangan secara masih.

Dalam upaya mensejahterakan petani kecil terkendala dengan kepemilikan lahan yang sempit (kurang dari 0,5 Hektar). Hasil produk pertanian yang diperoleh tidak layak, sehingga petani lebih memilih menjadi buruh dengan penghasilan yang lebih menguntungkan dibandingkan penghasilan sebagai petani. Berkenaan dengan hal di atas, maka perlunya upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, antara lain melalui: a) Menerapkan teknologi inovasi untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian di tingkat  petani; b) Perlunya ada organisasi yang dapat membantu pengelolaan / managemen dalam upaya pengembangan usaha / bisnis, antara lain dengan korporasi dalam bentuk koperasi dan badan usaha milik rakyat (BUMR); c) Pada khasus pembukaan lahan baru, petani perlu diberikan hak kepemilikan lahan, misalnya minimal 2 hektar per petani; d) dan Perlunya mencari program dan sumber dana yang telah disediakan oleh Pemerintah (Kementan, Kementerian Desa, Kementerian Sosial, Kementerian Perindustrian, dan sebagainya), ataupun dari swasta/ industri (dana CSR, dan sebagainya).

Pangan fungsional berbasis pangan lokal mempunyai peranan penting untuk meningkatkan kesehatan dan pemanfaatan sumber daya lokal, khususnya dalam upaya meningkatkan kekebalan tubuh dan kebugaran tubuh. Untuk itu, Pemerintah perlu melakukan dukungan pengembangannya antara lain dengan: a) pengembangan industri hulu untuk mendukung budidaya (benih, saprodi) untuk menghasilkan bahan baku berkualitas; b) pengembangan industri hilir (industri pengolahan) untuk  memproduksi produk  yang terbukti khasiatnya; c) riset pengembangan produk, mengingat tahapan riset yang panjang mulai dari bahan baku, senyawa aktif, dan berbagai pengujian (laboratorium, klinis)  dan melibatkan birokrasi, d) Kerjasama untuk pengembangan industri, yaitu  pengusaha, pemodal dan masyarakat; e) dan memberikan dukungan pemasaran produk yang dihasilkan.

Dalam upaya pengembangan usaha di tingkat petani/ masyarakat, diperlukan: (i) usaha tersebut diinisiasi dari bawah (petani/ masyarakat), (ii)  contoh success story, (iii) melibatkan langsung petani / masyarakat dan (iv) petani dapat menikmati nilai tambah.

Budidaya pertanian di rawa sudah banyak dilakukan kajian, dan sukses diimplementasikan. Pada kasus di Sumatera Selatan pertanian di lahan rawa sangat berhasil baik untuk padi maupun tanaman pertanian lainnya. Khusus untuk padi dapat menghasilkan panen 2-3 kali per tahun. Hal yang penting yang harus diperhatihan untuk keberhasilan tersebut adalah: (i) infrastruktur irigasi,  (ii) pemanfaatan mekanisasi modern, dan (iii) kesejahteraan petani, (iv) organisasi petani, antara lain koperasi.

Pemerintah diharapkan dapat memanfaatkan moment pandemi Covid-19, yakni memanfaatkan tenaga terdampak / PHK, misalnya dengan program-program padat karya di bidang pertanian.

Pengembangan pangan fungsional berbasis pada pangan lokal juga dapat dikembangkan menjadi objek pariwisata yaitu dengan memanfaatkan citarasa, proses yang bersifat tradisional dan bentuk olahan yang khas Indonesia.

Penutup pertemuan rapat online ini disampaikan Ketua DRN bahwa Dalam upaya peningkatan produksi pangan, khususnya padi, Pemerintah / DPR telah merencanakan pembukaan lahan pertanian 900.000 hektar dalam satu hamparan. Untuk itu, DRN perlu segera memberikan masukan (via Menristek dan Mentan) untuk pembukaan lahan rawa dengan pertimbangan: (i) dapat segera dilaksanakan,  (ii) tingkat keberhasilan tinggi, (iii) produktivitasnya tingga (dapat panen 2-3 kali per tahun), (iv) potensi lahan rawa besar (> 5 juta hektar), yang terdapat  di 3 pulau utama Sumatera, Kalimantan dan Papua. Selain itu, luasan pembukaan lahan yakni 900. 000 hektar, sebaiknya dapat dilaksanakan di beberapa lokasi (bukan satu hamparan). 

Hasil rapat ini memberikan kesimpulan yakni: 1) Lahan rawa sangat berpotensi untuk mendukung program peningkatan produksi pangan untuk mempertahankan keamanan pangan; 2) Dalam pelaksanaan program peningkatan produksi pangan perlu melibatkan petani / masyarakat dan memanfaatkan tenaga terdampak pandemi Covid-19; 3) Program ini,  disamping untuk produksi pangan juga harus dapat mensejahterakan petani dan masyarakat; 4) Pangan fungsional berbasis pangan lokal sudah saatnya Pemerintah mendukung industrialisasi di sisi hulu (budidaya) dan industrilisasi di hilir (industri pasca panen); 5) dan DRN akan melaporkan hasil rapat ini kepada Menristek dan Mentan, agar dapat ditindak-lanjuti sebagai usulan ke Presiden / Pemerintah.

 

(SP/edit:K)

 

 

 

 
Foto Lainnya