Dewan Riset Nasional (DRN) melakukan Rapat Komisi Teknis Kesehatan dan Obat yang pertama di tahun 2020 pada Selasa (28/04/2020) via zoom meeting. Pertemuan online ini pun menghadirkan dr.  Achmad Yurianto, Jubir Pemerintah untuk Virus Corona,  Direktur Jenderal Pencegahan  dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI.  Dalam rapat disampaikan bahwa DRN memiliki 74 anggota dari berbagai unsur keahlian yang siap mendukung program dan kebijakan pemerintah. Dalam menghadapi Pandemi COVID-19 ini DRN siap untuk mendukung pemerintah untuk terkait riset yang dibutuhkan untuk mengatasi wabah nasional agar pamdemi ini cepat berakhir.

dr.  Achmad Yurianto memberikan point-point problem yang dihadapi Pemerintah saat ini bahwa 1)COVID-19 merupakan penyakit menular sehingga masyarakat harus ditempatkan sebagai subyek; 2)Perlu banyak model untuk mendidik masyarakat dalam menghadapi penyakit menular ini, tidak hanya sebagi objek; 3) Merespon kedaruratan yang bersifat Nasional, kita belum memiliki pengalaman sehingga diperlukan  PSBB untuk pengendalian epidedeminologi  (orang); 4) Kajian yang universal/konprehenship diperlukan sehingga tidak bisa dengan kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan kegiatan nasional; 5) Diperlukan pendekatan Safe community: yang merupakan penanganan Pra RumahSakit dan penanganan di Rumah Sakit (ketersediaan ventilator dan peralatan vital untuk penanganan pasien).; 6) Diperlukan kepercayaan dari masyarakat (trust) terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani pandemic COVID-19; 7)Pandemi COVID-19 ini merupakan masalah dunia sehingga diperlukan masukan yang komprehensip terkait apa yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah meliputi:  Peraturan, Pengawasan, Pembinaan.

Ketua DRN dan Ketua Komisi Teknis Kesehatan Obat memberikan tanggapan bahwa Secara umum Indonesia cukup siap dalam menghadapi pandemic COVID-19 dan terdapat beberapa kendala: terkait Knowledge management; Reagen ekstraksi RNA yang masih harus diimpor sehingga diperlukan Kolaborasi dari berbagai keilmuan dan pemangku kepentingan. Untuk itu, diperlukan National Heath Research Center (Badan Riset Kesehatan Nasional), Riset Translasional: Rapid Test perlu pengembangan menggunakan genom local dan menganalisa Data di RS, yang sembuh di Indonesia dijadikan clinical evidence base.

 

Dalam penutup pertemuan rapat online ini disampaikan Ketua DRN bahwa DRN siap memberikan dukungan, apresiasi, dan respek yang tinggi kepada Pak Yurianto sebagai jubir COVID-19. Selain itu, 1) Perlu didorong program Pemerintah menjadi prioritas terkait Safe community (pra RS & di RS); 2) Memperkuat riset dengan melibatkan tenaga ahli; 3) Perlu dibentuk National Health Research Center; 4) Produk genom lokal untuk deteksi dan pengembangan vaksin; 5) Drone untuk mengangkut barang untuk mendukung penanganan COVID-19 di daerah-daerah kepulauan yang sulit dijangkau; 5) dan menganalisa resiko setiap step by step.

 

Hasil rapat ini akan didiskusikan dan merumuskan pemikiran-pemikiran ini untuk segera dilaporkan kepada Menristek'Kepala BRIN yang berisi poin-poin rekomendasi pada pertemuan rapat online ini.

 

(BM/edit:K)

 

 
Foto Lainnya