BERITA DRN TERKINI

Senin 17 Desember 2018, Komisi Teknis Energi Dewan Riset Nasional mengunjungi PLTD CPO (Crude Palm Oil) di Belitung.

Dalam kunjungan, Manager Pilot Power Plant CPO menjelaskan bahwa Pilot Power Plant ini didesain bersama BPPT, dan pembangunannya dilakukan sejak tahun 2016 dan telah dinyatakan selesai, namun gagal dilaksanakan komisioning, karena kesiapan Pemda untuk menyediakan bahan baku (CPO). Komisioning akhirnya dapat dilaksanakan pada tahun 2018 ini, dan diharapkan komisioning dapat segera selesai, untuk selanjutnya dapat segera dioperasikan. Pilot Power Plant ini dirancang untuk menghasilkan listrik 5 MW yang dibangun dengan anggaran APBN dari BUMN sebesar sekitar Rp. 98 M, yang dikerjakan oleh WIKA sebagai penangungjawab pembangunan. Kelanjutan dari pengoperasian Pilot Power Plant ini akan diserahkan kepada PLN atau Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung. Berkenaan dengan hal tersebut, diselenggarakan rapat KSO (kerjasama operasi) antara PLN, Pemda (Bupati Belitung) dan BUMN / PT WIKA untuk menentukan pengelola selanjutnya sebagai operator Pilot Project ini. Pengoperasian Power Plant ini pada dasarnya dapat menggunakan CPO kualitas rendah, dengan parameter nilai kalori minimal 37, sedang selama ini CPO yang digunakan mempunyai nilai kalori 39. Untuk ini SNI untuk kualitas CPO juga telah terbitkan. Dengan beroperasinya Power Plant ini diharapkan Belitung mampu mengamankan ketahanan energy secara mandiri. Pengoperasian Power Plant ini akan menjadi Power Plant pertama di Indonesia yang menggunakan CPO sebagai bahan baku, dan proyek ini sesuai anjuran Presiden untuk implementasi konversi CPO menjadi energi.

Dalam presentasi yang diSampaikan oleh Bapak Yusuf, bahwa nilai investasi yang totalnya sekitar Rp. 98 M, sebagian besar yaitu Rp. 39 M untuk mesin. Selanjutnya secara rinci menyampaikan proses produksi listrik, yaitu mulai dari datangnya bahan baku yaitu CPO, yang melalui  perlakuan pendahuluan, yakni  proses pemanasan (sekitar 50 oC, pemurnian / separasi),  homogenisasi dan pemompaan, sehingga masuk ke mesin. Status Power Plant ini masih pilot dan sifatnya masih tahapan riset dan pengembangan, karena: (i)  merupakan power plant pertama  Indonesia yang menggunakan CPO sebagai bahan baku, dan (ii) masih dalam tahap komisioning. Setelah komisioning, diharapkan segera dapat diresmikan pengoperasiannya

Pada Power Plant ini menghasilkan produk limbah buangan yang belum dimanfaatkan, yaitu sludge dan gas buang. Kedua limbah tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan, sludge digunakan untukdiproses menjadi biogas dan pupuk, sedang limbah gas buang dapat dimanfaatkan untuk memanaskan CPO sebelum diproses lanjut sebagai bahan bakar power plant.

Bahan baku CPO tidak menjadi masalah, karena di Belitung terdapat pabrik CPO, dan pendirian Power Plant ini dapat dijadikan model untuk ketahanan energi di daerah, khususnya di daerah terpencil, dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal

Bahan baku CPO yang dibutuhkan untuk power plant ini dapat digunakan CPO kualitas rendah (CPO afkir), yang viskositasnya harus stabil. Dalam hal ini diperluan riset bahan  additive kimia yang dapat digunakan untuk mempertahankan viskositas CPO selama dalam proses.

DRN sangat mendukung atas didirikannya power plant pertama dengan menggunakan bahan baku hayati ini sebagai upaya membangun sustainable bioeconomy di daerah. Implementasi untuk mendukung ketahanan energi diperlukan kebijakan / regulasi yang mengatur penggunaan bahan baku CPO dan  listrik yang dihasilkan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Kerjasama antara pihak penghasil energi perlu diatur dalam suatu regulasi kebijakan yang saling menguntungkan, sehingga semangat untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan dapat ditingkatkan

 

Kesimpulan

·      CPO potensial digunakan untuk bahan baku pada pembangkit tenaga listrik, dan untuk itu diperlukan perundangan untuk mendukung  pengadaan energi listrik

·      CPO sangat mudah diperoleh di Belitung, mengingat di Belitung terdapat pabrik CPO yang kapasitasnya cukup tinggi.

·      Pembangkit listrik tenaga diesel berbasis CPO menjadi alternatif solusi untuk mengurangi BBM yang semakin menipis cadangannya dan semakin tinggi importnya. (SPH)

 

 
Lihat Foto Lainnya