BERITA DRN TERKINI

 

Senin 6 Agustus 2018, Kunjungan Kerja dan Diskusi Dewan Riset Nasional dengan tema Perkembangan Pemikiran Undang-Undang Inovasi dan Peran Technopat dalam Undang-Undang di Auditorium Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong.

Acara diawali dengan sambutan dari Prof. Dr. Mohammad Nasir (Menteri Ristekdikti) yang menyampaikan bahwa Puspitek adalah kawasan strategis untuk riset Indonesia di masa depan. Ia menyampaikan bahwa pemerintah mendorong agar riset ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti pada produk invensi namun harus berujung pada produk inovasi. Harapannya, Indonesia dalam 100 tahun ke depan sudah di titik tertinggi pada penelitian, terutama di bidang Pangan Pertanian, Kesehatan dan Obat, ICT, Transportasi, Material Maju  (Nano Technology), Pertahanan dan Keamanan, Energi baru dan Energi terbarukan, Kemaritiman, Kesigapan menangani bencana dan Sosial Humaniora (bidang Culture and Education).

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia yang ketiga Prof. Dr. BJ. Habibie dalam sambutannya menuturkan, “tidak ada satu produk yang ditentukan oleh satu desain”. Sebab menurutnya, teknologi berorientasi kepada proses pembudayaan dan pendidikan. Beliau juga mengungkapkan,yang dibutuhkan untuk menjadikan Indonesia maju adalah teknologi. Masyarakat tidak usah mengutak-atik lagi dasar negara. “Pancasila itu is the best,” cetusnya. Pendiri Puspiptek ini menerangkan, bahwa yang ia mau adalah sebuah strategi dan inovasi dalam teknologi. Oleh sebab itu, dirinya berjuang untuk mendirikan Puspiptek sebagai tempat inovasi dan kolaborasi antar para ilmuwan.

Acara Diskusi dilanjutkan oleh Pemaparan dari Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU (Ketua DRN) yang menyampaikan bahwa Khusus dalam menjalankan tugas ke-3, DRN mengacu pada Visi Presiden Jokowi, khususnya pada Nawacita ke-6, yaitu meningkatkan produktivitas rakyat  dan daya saing di pasar internasional, yang sementara ini masih rendah. Pembangunan ekonomi di Indonesia selama ini  masih bertumpu  pemanfaatan sumber daya alam, dimana sumber ini dalam waktu yang tidak lama  terancam habis. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan keadaan tersebut menginspirasi DRN untuk menyampaikan pemikiran DRN tentang RUU Inovasi, yang berbasis pada pemahaman tentang strategi inovasi untuk pembangunan perekonomian yang berbasis pada Iptek. RUU Inovasi ini sekaligus akan digunakan untuk memberikan masukan RUU Sisnas Iptek (dengan berbagai kelemahan-kelemahan) diusulkan oleh Pemerintah (Kemenristekdikti) yang sekarang sedang dibahas di DPR. Dengan kata lain RUU Inovasi bertujuan membangun makro-ekonomi, dan untuk itu diperlukan kepimpinan yang kuat yaitu dipimpin langsung Presiden/Perdana Menteri. Untuk itu DRN telah menyampaikan masukan secara mendasar pemikiran RUU Inovasi dalam bentuk DIM, dengan mengubah judul yakni dengan menambah kata inovasi, yang selanjutnya secara rinci dijelaskan dalam Bab mengingat bahwa  konsep inovasi ini belum terakomodir dalam RUU Sisnas Iptek. Konsep usulan ini pada dasarnya memfasilitasi lebih lanjut hasil riset dalam bentuk teknologi yang diimplementasikan menghasilkan produk-produk  usaha komersiil yang disebut sebagai teknologi inovasi.  Melalui teknologi inovasi ini akan mempengaruhi ekonomi, environment sosial, sehingga akhirnya mempengaruhi perilaku manusia. Kesimpulan pemikiran dari anggota DRN menghasilkan bahwa yang pertama Harmonisasi UU 18/2002 dengan pemikiran tentang UU Inovasi adalah salah satu cara terbaik meningkatkan peran IPTEK dalam menggerakan kemakmuran dan kesejahteraan Bangsa Yang kedua untuk memperkuat kehadiran Negara dalam proses pembangunan berbasis IPTEK perlu dibentuk Dewan Riset & Inovasi Nasional dan Dewan Riset & Inovasi di Daerah dan yang ketiga bahwa Dewan Riset dan Inovasi Nasional seharusnya dipimpin oleh Presiden.

Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo. Beliau memaparkan tentang tugas dan fungsi Wantannas. Selain itu, Beliau juga memaparkan tentang kondisi realita yang berkembang saat ini. Dalam paparannya tentang spektrum ancaman, Sesjen menegaskan bahwa saat ini kita tidak menghadapi perang antar negara dengan mengangkat senjata, namun yang paling nyata dihadapi bangsa kita saat ini adalah kemiskinan, lingkungan, kesehatan, dan perang dagang. Saat ini suatu negara akan berupaya menguasai berbagai macam potensi di negara lain dan meningkatkan inovasi untuk kemajuan bangsanya. Sesjen berharap agar kedepan para teknokrat bisa bersama-sama dan bahu membahu untuk menciptakan inovasi-inovasi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Sesjen optimis harapan Indonesia emas tahun 2045 akan terwujud apabila seluruh teknokrat dan semua elemen bangsa bersatu untuk mewujudkannya. (K)

 
Lihat Foto Lainnya