BERITA DRN TERKINI

 

 

Kamis 9 Agustus 2018, Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan Seminar Nasional Dewan Riset Nasional mengenai "Membangun Ekosistem Inovasi Pangan dan Energi di Era Revolusi Indutri 4.0" dalam rangka Sidang Paripurna 1 DRN di Ballroom The Premiere Hotel Pekanbaru dan Acara Pembukaan Kegiatan Ilmiah "Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0" di Ballroom Labersa Grand Hotel and Convention Center Pekanbaru.

 

Anggota DRN dan Peserta Seminar Nasional DRN di awal Acara, mengikuti acara pembukaan di Labersa Grand Hotel. Acara tersebut dimulai dari Laporan Ketua Panitia Hakteknas, Dr. Jumain Appe (Dirjen Penguatan Inovasi – Kemenristekdikti) yang menyampaikan bahwa Peringatan Hakteknas ini adalah peringatan yang ke-23, yang merupakan peringatan penerbangan perdana pesawat anak bangsa N-250 yaitu pada tanggal 10 Agustus 1995. Hakteknas yang diselenggarakan di Pekanbaru, Riau ini diisi oleh serangkaian kegiatan baik di Riau, maupun di luar Riau. Di Riau terdiri atas 24 kegiatan, sedang di luar Riau terdiri atas 28 kegiatan. Kegiatan tersebut salah satunya adalah Kegiatan Ilmiah yang bertujuan untuk membangun jaringan dari berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam rangka pembangunan iptek, dan lebih dari itu diharapkan dapat terjadi simbiosis (kerjasama saling menguntungkan) antar berbagai pihak.

 

            Acara  dilanjutkan dengan sambutan dari Prof. Dr. Mohammad Nasir (Menteri Ristekdikti) yang menyampaikan bahwa tujuan peringatan Hakteknas di luar Ibu Kota, adalah untuk dapat lebih memperkenalkan iptek dan inovasi kepada masyarakat di daerah. Peringatan Hakteknas ke-23 yang dipusatkan di Kota Pekanbaru dengan tema Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi dan sub tema : Sektor Pangan dan Energi di Era Revolusi Industri 4.0 menjadi sangat istimewa, mengingat bahwa selama 23 tahun diperingati sejak 1995, inilah pertama kalinya Hakteknas diselenggarakan di Pulau Sumatera. Pemilihan Riau sebagai tuan rumah sesuai dengan predikat Riau sebagai salah satu lumbung energi nasional dan penyangga utama kebutuhan pangan di Pulau Sumatera. Menteri mengharapkan kegiatan riset yang dilakukan dapat berujung dengan inovasi, sehingga dapat mendukung kegiatan perekonomian negara, sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang menang adalah negara-negara yang indeks inovasinya tinggi.

 

            Acara Pembukaan diakhiri dengan pidato dari Prof. Dr. B.J. Habibie (Presiden Ke-3 RI). Beliau menyampaikan bahwa untuk menghasilkan suatu produk inovasi dibutuhkan proses waktu yang lama, sejak perencanaan hingga menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Seiring dengan proses inovasi ini adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran sebagai modal investasi.  Memasuki Revolusi Industri 4.0, kendala utamanya adalah modal investasi, dan diperlukan pembangunan SDM yang unggul, yang dapat dilaksanakan melalui pendidikan dan kebudayaan. Namun hal ini tidak cukup, dan diperlukan suatu proses penguasaan teknologi, dengan konsep “mulai dari akhir dan berakhir dengan awal”. Hal penting yang perlu difahami bahwa untuk menghasilkan produk inovasi diperlukan berbagai disiplin ilmu (multidisiplin), dan dengan multidisiplin dalam proses inovasi ini dapat diperoleh produk bernilai tambah tinggi (lebih murah, lebih efisien, dan sebagainya), dan yang penting juga adalah dapat dipasarkan. Di Indonesia perlu dikembangkan Ekonomi Pasar Pancasila (Social Democratic Market), dengan memperhatikan keragaman yang berbeda satu sama lain sesuai dengan tempatnya sesuai dengan potensi lokalnya. Misalnya pembangunan di Indonesia Bagian Timur yang potensiil  untuk pengembangan rumput laut, akan berbeda dengan di Jawa, dan sebagainya.

           

 Setelah Anggota DRN dan Peserta Seminar Nasional DRN mengikuti acara pembukaan di Labersa Grand Hotel, Seminar Nasional Dewan Riset Nasional diselenggarakan di The Ballroom The Premiere Hotel Pekanbaru dan acara dimulai kembali dari Sesi Pleno dan diawali dengan Presentasi dari Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU (Ketua DRN) mengenai Perkembangan Inovasi. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran seluruh peserta Sidang Paripurna I DRN tahun 2018 yang diselenggarakan di Pekanbaru, yang sekaligus memperingati Hakteknas ke 23 yang jatuh pada tanggal 10 Agustus. Ketua DRN memaparkan bahwa tugas DRN, yaitu: (i) menyusun ARN, (ii) Membina DRD dan (iii) memberi masukan kepada Menteri Ristekdikti tentang perkembangan iptek di Indonesia dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi berbasis iptek. Khusus dalam menjalankan tugas ke-3, DRN mengacu pada Visi Presiden Jokowi, khususnya pada Nawacita ke-6, yaitu meningkatkan produktivitas rakyat  dan daya saing di pasar internasional, yang sementara ini masih rendah. Pembangunan ekonomi di Indonesia selama ini  masih bertumpu  pemanfaatan sumber daya alam, dimana sumber ini dalam waktu yang tidak lama  terancam habis. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan keadaan tersebut menginspirasi DRN untuk menyampaikan pemikiran DRN tentang RUU Inovasi, yang berbasis pada pemahaman tentang strategi inovasi untuk pembangunan perekonomian yang berbasis pada Iptek. RUU Inovasi ini sekaligus akan digunakan untuk memberikan masukan RUU Sisnas Iptek (dengan berbagai kelemahan-kelemahan)  diusulkan oleh Pemerintah (Kemenristekdikti) yang sekarang sedang dibahas di DPR. Dengan kata lain RUU Inovasi bertujuan membangun makro-ekonomi, dan untuk itu diperlukan kepimpinan yang kuat yaitu dipimpin langsung Presiden/Perdana Menteri. Untuk itu DRN telah menyampaikan masukan secara mendasar pemikiran RUU Inovasi dalam bentuk DIM, dengan mengubah judul yakni dengan menambah kata inovasi, yang selanjutnya secara rinci dijelaskan dalam Bab mengingat bahwa  konsep inovasi ini belum terakomodir dalam RUU Sisnas Iptek. Konsep usulan ini pada dasarnya memfasilitasi lebih lanjut hasil riset dalam bentuk teknologi yang diimplementasikan menghasilkan produk-produk  usaha komersiil yang disebut sebagai teknologi inovasi.  Melalui teknologi inovasi ini akan mempengaruhi ekonomi, environment sosial, sehingga akhirnya mempengaruhi perilaku manusia.

 

Presentasi selanjutnya dibawakan oleh Dr. Ilham Akbar Habibie (Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Telematika, Penyiaran dan Riset & Teknologi) Dalam pemaparannya beliau menyampaikan, Inovasi mempunyai peranan sangat penting dalam mengantisipasi perubahan yang disebut sebagai Global Mega-trend global yang akan mengubah dunia, yakni (i) urbanisasi yang makin meningkat, (ii) iklim yang makin tidak menentu, (iii) kekuatan ekonomi global, (iv) demografi, dan (v) gebrakan teknologi (technology breakthrough). Dengan semangat Revolusi Industri 4.0 diharapkan dapat mendukung pencapaian upaya pembangunan ekonomi berbasis iptek, khususnya melalui pemanfaatan Sumber Daya  Hayati yang sangat potensial dikembangkan menjadi produk-produk bernilai tinggi, seperti minyak nilam, kurkumin dan sebagainya dengan memanfaatkan nano teknologi. Kelembagaan/pengorganisasian dalam pelaksanaan riset sangat penting untuk koordinasi dan management, misalnya untuk menentukan penjadwalan waktu kegiatan program, pembagian kerja dan anggaran. Secara umum masa depan perekonomian dan masyarakat semakin ditentukan oleh kemampuan berinovasi dan kondisi sosial masyarakat itu sendiri, yang dalam hal ini tergantung berbagai faktor sebagai berikut : (i) pemahaman  proses inovasi hulu-hilir, yakni kemampuan masyarakat akan iptek-inovasi dan wirausaha, (ii) kemampuan inventasi iptek dan pengembangan, (iii) terjadinya kolaborasi dan sinergi antar institusi litbang, dan (iv) dukungan SDM yang memadai.

 

Untuk mengakhiri acara Sesi Pleno, Letjen. Doni Monardo (Sesjen Wantannas) memberikan paparan bahwa Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis (keuletan dan ketangguhan) bangsa Indonesia untuk  mempertahankan NKRI dengan melakukan pengamanan terhadap ancaman, yang mencakup: (i) ancaman lingkungan hidup, terutama terhadap kerusakan sumber daya air akibat ulah manusia seperti pencemaran, pertambangan, deforestasi dan sebagainya.  Ketahanan nasional ini sangat penting, mengingat Indonesia adalah negara yang kondisi masyarakatnya masih memprihatinkan. Ketahanan di bidang energi, dapat dilaksanakan melalui program pemanfaatan sumber energi terbarukan, seperti daya listrik berbasis  tenaga air dan pengembangan bahan bakan nabati / BBN (biofuel) dari berbagai jenis tanaman seperti sawit, tebu, nipah, jarak, kemiri sunan dan sebagainya. Dengan mengoptimalkan potensi-potensi ini dapat segera tercapai kemandirian dan kedaulatan pangan dan energi dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dengan meningkatkan inovasi khususnya untuk pengolahan, maka kita segera dapat menurunkan jumlah import, yang sekaligus untuk pencapaian target SDGs, khususnya target SDGs nomor 9 yaitu Industry, Innovation and Infrastructure. Dalam menghadapi tantangan global diperlukan Pemimpin yang mampu untuk memanfaatkan: (i) potensi SDA dan kearifan local, (ii) meningkatkan kemampuan organisasi dan iptek, dan (iii) memfasilitasi jaringan kerjasama antar pihak untuk berinovasi. Dalam hal ini Peran Teknokrat menjadi bagian penting untuk memfasilitasi  ekosistem inovasi untuk pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.

 

            Setelah acara pleno, Peserta Seminar Nasional DRN mengikuti sesi 2 secara Paralel. Sesi A mengenai Kebijakan Inovasi Bidang Pangan dan Energi dan Sesi B mengenai Kebijakan Pembangunan Inovasi Daerah.

 

Kesimpulan :

  1. Keberpihakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sangat menentukan keberhasilan pembangunan berbasis iptek menuju industri 4.0, termasuk meningkatkan anggaran litbang sebagai basis penting untuk menghasilkan produk-produk  inovasi;
  2. Untuk mengurangi ketergantungan konsumsi nasi sebagai makanan pokok, maka produk pangan lokal (suweg, ubi, sagu, ikan, dan sebagainya) yang telah dimanfaatkan sebagai makanan pokok perlu difasilitasi dengan berbagai kemudahan, dan perlunya mempertahankan kebiasaan ini selama dapat memenuhi kebutuhan gizi dan menyehatkan;
  3. Untuk mendukung proses inovasi, Pemerintah perlu menyiapkan SDM yang mampu/ terampil, baik di hulu (riset) mau[pun di hilir (industri, pemasaran), misalnya melalui pelatihan untuk tenaga muda untuk berbagai bidang ketrampilan di bidang produksi, wira-usaha dan sebagainya;
  4. Dengan mengacu pada struktur organisasi Dewan Riset dan Inovasi di tingkat internasional, dan sekaligus untuk meningkatkan peran DRN, maka DRN atau yang disebut DRIN (Dewan Riset dan Inovasi Nasional) diusulkan dapat dipimpin langsung di bawah Presiden, dan DRD diharpkan dapat dipimpin langsung oleh Kepala Daerah (Gebernur, Walikota atau Bupati);
  5. Investasi di Indonesia di dominasi investasi dari luar negeri. Hal ini menjadi keprihatinan, mengingat kebijakan industri/perusahaan akan dikendalikan oleh pemilik investasi (investor), sehingga kemajuan dan keberpihakan untuk Indonesia dipertanyakan. Misalnya harga CPO hasil produksi perkebunan kelapa sawit di Indonesia ditentukan oleh pihak luar. Untuk itu, perlunya mendorong eksplorasi pembiayaan investasi dari dalam negeri, misalnya dari diri-sendiri, keluarga dan teman-kerabat;
  6. Untuk memacu proses inovasi, diusulkan agar dana riset dapat ditingkatkan, sebagaimana dana pendidikan, sehingga untuk itu diperlukan perundangan yang mengatur (RUU Inovasi), untuk menjamin kepastian dukungan terjadinya proses inovasi, termasuk fasilitasi dan investasi dari dalam negeri yang lebih memperhatikan nilai tambah produk secara berkesinambungan;
  7. Peran DRN ke depan diharapkan lebih luas lagi, yaitu mencakup dalam merancang riset untuk mendapatkan penghargaan Nobel Prize dan fasilitasi proses inovasi terutama untuk: (i) teknologi pasca panen untuk pengembangan produk lokal (misalnya suweg sebagai substitusi beras),  (ii) modal / investasi untuk menghasilkan produk yang laku di pasarkan, (iii) pengawasan terhadap pelaksanaan riset, dan (iii) menentukan strategi, politik untuk industrialisasi;
  8. Dalam upaya mengantisipasi perkembangan kebutuhan SDM yang siap melaksanakan pembangunan dan pengembangan energi ke depan, maka pembentukan fakultas baru dapat menjadi solusi, misalnya Fakultas Managemen Perkebunan untuk mengantisipasi kebutuhan SDM yang mampu melakukan pengelolaan sumber daya perkebunan, khususnya sawit yang menjadi primadona untuk pangan, energi dan sumber devisa negara;
  9. Peningkatan produksi pangan dan energi dapat saling meniadakan dan dapat saling dependensi, sehingga diperlukan kebijakan/regulasi yang dapat mengatur hulu-hilir suatu komoditas;
  10. Potensi sawit yang besar di Riau, namun belum dapat melakukan proses nilai tambah melalui produksi produk turunan. Kendala yang sering dihadapi adalah karena SDM yang belum siap, namun permasalahan-permasalahan lain yang sifatnya non-teknis dipandang menjadi kendala utama, seperti kepemilikan lahan sawit yang banyak dikuasai oleh investor luar negeri/ Malaysia, sedang ditingkat sawit rakyat terkendala dengan dana investasi yang cukup tinggi. Untuk pengembangan produk turunan diharapkan Pemerintah dapat memfasilitasi dengan berbagai skema bantuan sesuai dengan kebutuhan;
  11. Biogas pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk sumber listrik, dan hal ini sudah banyak diterapkan di Indonesia, namun biasanya skalanya kecil dan tidak cukup untuk sumber listrik  skala besar. Demikian halnya limbah POME sudah berhasil digunakan untuk pembangkit listrik di Riau, yang telah dioperasikan pada  7 unit pembangkit;
  12. Pemanfaatan sumber daya lokal ini dianggap model yang lebih efisien, namun demikian di era otonomi daerah, maka kebijakan Pimpinan daerah (Bupati, Wakikota, Gubernur) sangat menentukan program yang dilaksanakan. Pemerintah Daerah diharapkan dapat mengeksplor dana investasi untuk pengembangan daerah dengan model-model dana BPDP Sawit (Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit) yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan produk berbasis iptek di daerah-daerah dalam upaya ketahanan pangan dan energi.

 

 (SP/Edit:K)

 
Lihat Foto Lainnya