BERITA DRN TERKINI

 

Selasa 10 Juli 2018, Komisi Teknis Energi dan Komisi Teknis Pangan dan Pertanian Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan Focus Group Discussion Lintas Komtek dengan tema SINERGI RISET DAN INOVASI ENERGI PADA ERA INDUSTRI 4.0  UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN ENERGI DAN PANGANdi Ruang Pertemuan Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Ciledug.  Rapat diawali pembukaan dan sambutan  oleh Wakil Ketua DRB yang meyampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM memfasilitasi pelaksanaan FGD Komisi Teknis Energi – Komisi Pertanian dan Pangan dan menyampaikan secara singkat tugas tentang tantangan Komisi Teknis Energi dalam menuju pencapaian target bauran energy baru terbarukan pada tahun 2025 sebesar 23%. Wakil Ketua DRN juga menyampaikan status penyusunan amandemen UU No. 18 tahun 2002 tentang Sisnas Litbangrap IPTEK. Saat ini DRN sudah dan sedang melakukan komunikasi dengan para stakeholder dan fraksi-fraksi di DPR untuk  memasukkan inovasi menjadi bagian dari pasal-pasal yang akan dimasukkan dalam Rancangan Undang Undang inovasi, sebagai pengganti UU No 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Litbangrap IPTEK.

Acara dilanjutkan Keynote Speech dari Kepala Badan Litbang ESDM yang menyampaikan bahwa untuk mendukung kebutuhan BBM Indonesia diperlukan pengembangan inovasi bionergi karena selama ini Indonesi harus mengimpor 50% dari kebutuhan total jika harga semakin tinggi akan mengganggu balance of payment dalam negeri Indonesia. Selama ini Badan Litbang ESDM telah melakukan kerjasama riset dalam bentuk konsorsium dengan perguruan tinggi, perusahaan, dan stakeholders dalam dan luar negeri. P3Tek KEBTKE juga telah melakukan riset terkait Bioetanol yang berasal dari Sorgum dengan membangun Pilot Plan Bioetanol Kapasitas 100 L/day beserta dengan kebun energi berbasis Kemiri Sunan yang ditumpangsarikan dengan Sorgum bekerjasama dengan UPN “Veteran” Yogyakarta. Selain bioetanol, P3Tek KEBTKE telah melakukan riset terkait Biodiesel dari Kemiri Sunan dengan membangun Mobile Biodiesel System dengan kapasitas 500 L/batch.

Terkait dengan Harteknas 2018 di Riau, Puslitbangtek Migas “LEMIGAS” siap meluncurkan Program Dimethil Ether (DME) yang sedang dikembangkan dan sudah siap dikomersilkan. Creating value dari DME dimulai dengan pemanfaatan DME untuk rumah tangga dan industri kecil sebesar 20% menggantikan LPG di wilayah Sumatera dan Kalimantan. PPPTMGB “LEMIGAS” membuatkan skema bisnis untuk menggantikan 20% LPG yang diimpor dari Tiongkok.

 

  Hasil Disuksi dan Masukan dari Peserta:

  • Stakeholder perlu fokus pada aspek kebijakan. Karena selama ini kebijakan-kebijakan yang terkait di bidang energi tidak inine antara satu dengan yang lainnya. Contohnya antara KEN, COP, PP. 50 Thn 2017 tidak inilne. Juga perlu adanya kajian tentang pricing policy (Prof. Widodo, Univ Indonesia, Anggota DRN).
  • Proyek PLT Biomassa dari Bambu, pembiayaan dan teknologinya masih berasal dari luar negeri (pemberi dana). Hal tersebut perlu menjadi perhatian  agar teknologi yang diterapkan fisibel dan sustainable (Prof Sudharto, Univ Diponegoro, Anggota DRN)
  • Mewujudkan ketahanan pangan dan ketahanan energi merupakan pekerjaan yang sangat berat. Untuk itu penting untuk mempunyai kebijakan yang terkait dengan regulasi tertinggi (Perpres, Inpres, dan lain-lain). Mengingat adanya pengalihan lahan besar-besaran di setiap wilayah, misalnya di Sumatra lahan pangan terkonversi dengan sawit (sindrom sumatra), di Jawa lahan pangan terkonversi dengan jalan tol (sindrom jawa) (Dr. Haryono, Kementerian Pertanian, Anggota DRN)
  • Satu-satunya penyediaan kebun energi yang sangat siap adalah kelapa sawit. Untuk mengatasi monopoli perlu adanya sharing ekonomi antara swasta dan rakyat, BUMN dengan rakyat (Dr. Haryono, Kementerian Pertanian, Anggota DRN)
  • Produksi etanol untuk campuran bahan bakar (bioetanol), harganya masih sangat tinggi, sehingga menyebabkan Bioetanol tidak bisa berkembang. Perlu adanya kebijakan untuk mengantisipasi dijualnya bahan baku diluar untuk energi. (Dr. Agus Puji). Saat ini, segera dilakukan pemakaian Bioetanol E2 yang akan dimulai di Jawa Timur (Dr. Fadhilah, DJEBTKE – Kementerian ESDM).
  • Adanya kebijakan yang belum nyambung antara suplier dengan produsen, maka perlu adanya flex policy. Contohnya: Dalam produksi biofuel, listrik harus dihasilkan dr by porduct biofuel, termasuk cogeneration (Dr. Agus Wahyudi, Direktorat Jenderal Perkebunan – Kementerian pertanian)
  • Penyediaan biofuel yang paling siap adalah CPO. Perlu ada pengawalan sehingga suplai sawit yang demikian besar dapat menghadapi adanya perang dagang (trade war) (Dr. Dede, PT. Riset Perkebunan Nusantara)
  • Dengan adanya pemakaian bioavtur diharapkan akan menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor penerbangan. Target ICAO terhadap emisi gas rumah kaca dari aviation adalah emisi pada tahun 2050 sama dengan emisi pada tahun 2005. Hal ini bisa dicapai dengan salah satunya dengan pamakaian bioavtur (Ir. Wendy Aritenang, Ph.D Senior National Expert on Aviation Environment, International Civil Aviation Organization)
  • Selain riset-riset di bidang teknik, perlu adanya Pusat Riset/Penelitian Hukum untuk menguji setiap hasil-hasil riset (Dr. Aswin Sasongko, Praktisi, Ahli Teknologi Informasi LIPI).

(AN/Edit:K)

 

 
Lihat Foto Lainnya