BERITA DRN TERKINI

 

 

 

Selasa 7 Agustus 2018, Komisi Teknis Material Maju Dewan Riset Nasional (DRN) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Analisis dan Usulan Terhadap Konsep Making Indonesia 4.0" di Hotel Sari Pacific Jakarta. Rapat diawali pembukaan oleh Ketua Komisi Teknis Material Maju yang mengatakan bahwa tujuan rapat kali ini untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan konsep Making Indonesia 4.0, mengumpulkan pengalaman negara lain dalam membuat kebijakan industri serta mensinergikan antar aktor yang akan mengimplementasikan Making Indonesia 4.0.

Revolusi Industri 4.0  melibatkan penggunaan berbagai teknologi maju seperti Artificial Intelligent (AI), Robotics, Blockchain dan 3D Printing yang mengharuskan transformasi sosial , ekonomi, sistem politik yang akan menjadi tekanan berat bagi Pemerintah dan Swasta mengambil keputusan. Revolusi Industri 4.0  mendorong perubahan kebijakan dan peraturan yang lebih lincah, perlu iterasicepat dan eksperimen.

Revolusi Industri 4.0 mempunyai empat karakter yaitu Vertical networking of smart production systems ; Horizontal integration via a new generation of global value chain networks ; Through-engineering across the entire value chain dan Acceleration through exponential technologies.

Seluruh aktivitas diatas dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing, yang sangat sarat dengan penguasaan teknologi dan inovasi. Selain itu terkait dengan soal kemampuan sumberdaya manusia dan produktivitasnya, sumber pendanaan, investasi teknologi, perdagangan, penggunaan robot dan dapat meningkatkan pengangguran akibat penggunaan otomasi dan robot.

Secara sederhana prinsip “Making Indonesia 4.0” dapat disampaikan sebagai berikut :

  • Terdiri dari 5 fokus sektor (Food & Beverage; Textile & Apparel; Automotive; Electronics and Chemical)
  • Ditunjang oleh 10 pilar Prioritas Nasional (Reform Material Flow; Redesign Industrial Zones; Embrace Sustainability; Empower SMEs; Build Nationwide Digital Infrastructure; Attract Foreign Investment; Upgrade Human Capital; Incentive Technology Investment and Reoptimize Regulation & Policies)

Semua masih dalam tataran teoritis, karena langkah implementasinya masih harus dibentuk:

  • Komite Revolusi Industri 4.0
  • Kelompok kerja inisiatif Horisontal dan Kelompok Kerja inisiatif Vertikal.

Mengingat Konsep Revolusi Industri 4.0 masih relatif cair, maka segala pemikiran dari masyarakat bisa disampaikan untuk penyempurnaan implementasi Making Indonesia 4.0.

Indonesia ditargetkan menjadi top 10 global ekonomi pada tahun 2030. Padahal dewasa ini masih banyak kelemahannya seperti Produktivitas buruh, Aliran perdagangan masih terendah di ASEAN, Investasi asing terjadi stagnan ; investasi di bidang teknologi rendah, kemampuan sumberdaya manusia masih rendah ; sumber pendanaan industri lemah ; Industri masih sangat tergantung prinsipal luar negeri ; sinergi antar Kementerian masih lemah ; Masih banyak bahan baku dan barang modal harus diimport ; neraca perdagangan kurang baik dan lain-lain.

Pertanyaan yang timbul bagaimana negara-negara lain bisa maju secara berkelanjutan apa lesson learned yang kita bisa petik, dimana letak kelemahan dan kekuatan dari konsep Making Indonesia 4.0 , bagaimana dengan program MP3EI apakah ada pelajaran yang bisa ambil agar kegagalan tidak terulang.

Kegiatan FGD Komtek Material Maju Dewan Riset Nasional diharapkan dapat memberikan masukan kepada DRN dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang akan mengadakan seminar dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi di Pekanbaru. Adapun cakupannya meliputi aspek kebijakan dan teknis material dan bahan baku.

 

      Kesimpulan : 

  1. Pengembangan teknologi di Indonesia, masih timbul tenggelam, oleh karenanya perlu kelembagaan tertentu agar bisa mengarahkan “doing things technologically”
  2. Intelegensia manusia belum banyak digunakan, agar dapat meningkatkan kemampuan dalam negeri. Perlu komitmen yang kuat untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam sains dan teknologi
  3. Kemampuan berindustri perlu ditingkatkan mengingat import yang terlalu tinggi, kemampuan nasional harus ditingkatkan tanpa perlu sumber dari luar. Perlu dibangun pasar dalam negeri yang kuat dengan sedikit impor
  4. Perlu dipertimbangkan sektor Budidaya, Kria, dan Pariwisata dengan dukungan Biotek, Material dan IT
  5. Riset harus mengarah kepada inovasi dan perlunya peningkatan kemampuan human capital
  6. Beberapa kendala riset yang ada antara lain : akses informasi terhadap journal yang baru, sarana prasarana, SDM berkualitas masih kurang dan lain-lain. Ada persoalan kultur, yang mengakibatkan kurangnya daya pikir, sehingga mudah didikte oleh orang lain
(UP/Edit: K)
 
Lihat Foto Lainnya