BERITA DRN TERKINI

Kamis 19 April 2018, Dewan Riset Nasional ( DRN ) Komisi Teknis pangan dan pertanian dan Komisi Teknis Energi mengadakan bersama FGD ( focus group discussion ) diruang rapat pusat penelitian dan pengembangan perkebunan di Cimanggu Kota Bogor, dengan tema : “ Sinergi Riset dan Inovasi Bio-Energi pada Era Industri 4.0 untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi”.  FGD diawali Sambutan pertama dari Kepala Puslitbang Perkebunan yang diwakili oleh salah satu Kepala Bidang di Puslitbang Perkebunan  menyampaikan atas nama Pusat Litbang Perkebunan menyampaikan selamat datang dan terimakasih atas kehadiran seluruh peserta FGD dengan tema “Sinergi Riset dan Inovasi Bioenergi di Era Industri 4.0 untuk Mendukung Ketahapan Pangan dan Energi”, Energi merupakan kebutuhan pokok untuk kehidupan dan di tingkat global lebih 80% energi di dunia dari fosil, sementara di Indonesia penggunaan penggunaan energi fosil sangat tinggi yaitu 95%, dan hanya 5 % dari energi terbarukan. Hal menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi bioenergi di Indonesi masih sangat rendah dan ke depan perlu ditingkatkan dan pemanfaatannya  dapat diperluas. Oleh karena itu isu riset dan  inovasi, mempunyai peran penting untuk memaksimalkan pemanfaatannya sumber daya alam (SDA) untuk energi terbarukan (bioenergi) seperti biomassa dari limbah pertanian dan perkebunan, seperti limbah sawit, dan sebagainya.

Kepala Badan Litbang Kementan diwakili oleh Prof. Dr. Risfaheri, MSi (Kepala Balai Besar Pasca Panen Pertanian) dengan topik Pengembangan Tanaman dan Bioenergi Berbasis Ekoregion. Disampaikan bahwa pada dasarnya tugas Kementan untuk pengembangan bahan bakar nabati (BBN) mengacu pada Inpres No. 1/ 2006, mencakup: (i) Penyediaan tanaman bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN/biofuel), (ii) Penyuluhan pengembangan tanaman untuk BBN(iii) Penyediaan benih dan bibit tanaman BBNdan (iv) Mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan kegiatan pasca panen tanaman BBN. Indonesia cukup kaya akan tanaman berpotensi penghasil bioenergi, yang dibagi 3 kelompok besar, yaitu: (i) kelompok penghasil minyak (sawit, kelapa, jarak, dan sebagainya) untuk produksi biodiesel, dan (ii) kelompok penghasil karbohidrat (tebu, nipah, singkong, dan sebagainya), untuk produksi bioethanol, dan (iii) kelompok limbah biomasa (tandan buah sawit kosong, bogas, dan sebagainya) untuk menghasilkan biogas.

Ketua DRN, Dr.Ir. Bambang Setiadi, IPU  sebagai dengan topik  Inovasi Bidang Pangan dan Energi di Era Industri 4.0.  Disampaikan bahwa acara FGD ini dilatarbelakangi oleh tema Hakteknas yang akan diselenggarakan di Riau tanggal 10/8/2018, yakni Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi. Mengacu pada sidang Kabinet  9 April 2018, yang antara lain dipertanyakan hasil riset  yang cukup besar yaitu Rp. 24,9 T. Pertanyaan ini utamanya ditujukan kepada Kemenristekdikti dan jajarannya.  Kondisi di atas menunjukkan bahwa pengelolaan riset belum optimal, dan untuk menjawab itu semua adalah UU Inovasi. Oleh karena itu, DRN terpanggil dan berkepentingan untuk  menyusun konsep RUU inovasi dengan strategi tertentu, sehingga hasil riset dapat diimplentasikan di industri dan menjadi  usaha komersial. RUU Sistem Iptek (Sisnas P3 Iptek) yang ditujukan untuk mencapai kemajuan di bidang iptek dinilai berada dalam posisi belum selaras dengan teori dan proses inovasi sehingga perlu ditindaklanjuti dengan harmonisasi dengan UU Sistem Inovasi sehingga menjadi Uu Inovasi dan Sisnas Iptek

UU Inovasi ini bertujuan untuk menciptakan iklim yang memperlancar proses inovasi, yaitu proses produksi invensi (melalui R&D) dan proses komersialisasi dan/atau diseminasinya di dunia usaha maupun masyarakat, sehingga meningkatkan produktivitas, daya saing dan kemandirian.  Sementara ini DRN sudah melakukan berbagai hal terkait dengan UU Inovasi, yaitu: (i) Menyampaikan Naskah Akademik RUU Inovasi kepada Menteri Ristekdikti, (ii) menyampaikan masukan untuk RUU Sisnas Iptek kepada Menteri dan kepada DPR-RI. Namun demikian, DRN memandang hal tersebut belum dapat menjawab pertanyaan dalam Sidang Kabinet tersebut. DRN tetap akan menyampaikan RUU Inovasi dengan strategi-strategi, yakni: (i) merubah paradigma, (ii) bersifat memerintah (by order), bukan deskripsi peran lembaga, (iii) mengarahkan dengan tegas riset dan hasilnya, (iv) hasil riset harus komersial,(v) RUU pernah dilakukan oleh negara (bukan uji coba), dan (vi) dana riset bukan subjek untuk dipotobg di tengan pelaksanaan.  Selama ini DRN bermitra dengan DRD di seluruh Indonesia yang sangat aktif, terus berjuang untuk mengusulkan RUU Inovasi untuk mengantisipasi makin menipisnya sumber daya alam di Indonesia.

( HSN/SPH/FA )

 
Lihat Foto Lainnya