BERITA DRN TERKINI

Bertempat di Hotel Aryaduta Jl. KKO Usman&Harun 44-48 Jakarta. Pada Hari Senin tanggal 17 Juli 2017 Komisi Teknis Material Maju melaksanakan rapat Focus group discussion ( FGD ) yang dihadiri oleh Dr. Ir. Bambang Setiadi, IPU ( Ketua Dewan Riset Nasional ), Dr.Ir. Iding Chaidir, M.Sc ( Sekretaris Dewan Riset Nasional ), Dr.Ir. Utama Herawan Padmadinata ( Ketua komisi teknis Material Maju ), Prof.Dr. Ridwan, Prof.Dr.Ir. Bambang Sunendar, M,Eng, Ir. Budi Susanto Sadiman, Ir. Achdiat Atmawinata, Dr.Ir. Ahmad Sobandi, M,Eng, Dr. Nurul Taufiqu Rochman, B.Eng, M.Eng, Prof. Ir. Jamasri, Ph.D, Dr. Dwi Gustiono ( Asisten Komisi teknis Material Maju ),Dr. Ir. Haryono, M.Sc ( Ketua Komisi teknis pangan dan pertanian ) , Dr. Ir. Arnold Soetrisnanto ( Ketua komisi teknis Energi ), perwakilan Dewan Riset Daerah ( DRD ), para Narasumber , para undangan dan staff Sekretariat.

Dalam Focus group discussion ( FGD ) Komisi teknis Material Maju dengan Tema :

“ Inovasi Biomassa Menjadi Sumber Pendapatan Daerah “.

Rapat Focus group discussion ( FGD ) diawali dengan :

1.    Sambutan Ketua Dewan Riset Nasional

FGD dibuka oleh Ketua DRN dengan menyampaikan terimakasih atas kehadiran para peserta dan melaporkan salah satu tujuan pembentukan yakni sebagai Tim Ahli Menristekdikti untuk mendukung Nawacita. Pada Nawacita tidak ada kata riset, yang ada adalah kata daya saing (Nawacita 6). Kata kunci penting untuk mendukung daya saing adalah inovasi. Melalui inovasi diharapkan Indonesia dapat mewujudkan potensi besar GDP menjadi kenyataan.

2.    Sambutan Ketua Komisi teknis Material Maju

Ketua Komisi teknis Material Maju menyampaikan agar FGD ini menjadi langkah terobosan untuk memanfaatkan biomasa menjadi sumber ekonomi / perekonomian masyarakat. Hal ini mengingat bahwa Indonesia, merupakan sumber biomassa yang sangat besar, klhususnya dari industri agro (pertanian, perikanan, peternakan), yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk material maju untuk didiimplementasi di berbagai sector/ industri. Untuk itu, kerjasama ABG (konsep Triple Helix) diharapkan dapat berperan secara sinergi untuk meningkatkan dan pengembangan perekonomian dan industrialisasi berbasis biomasa.

Narasumber :

1.   Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si - Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset,Teknologi dan Pendidikan Tinggi

Kekayaan hayati Indonesia luar biasa besar, namun hingga kini belum ada data akurat yang mengukur besarnya potensi biomass di Indonesia. Di sisi lain kebijakan pemanfaatan biomass dalam teknologi material secara eksplisit juga belum ada, sementara itu pemanfaatan sumber daya hayati di Indonesia melibatkan berbagai institusi dan kementerian yang  masih bersifat egosektoral. Untuk meningkatkan dan pengembangan perekonomian dan industrialisasi berbasis biomasa, diperlukan  scenario ekonomi, dengan referensi di Korea. Di masa lalu sudah diinisiasi pengembangan perekonomian dan industrialisasi oleh Menristek Habibie, dengan industri strategis yang berhasil memproduksi produk-produk teknologi, tetapi belum dapat melaksanakan pemasaran dengan baik. Untuk masuk pasar, harus mempunyai keunggulan tertentu / uniqueness (misalnya low cost, atau mempunyai fungsi khusus).

2.   Dr. Syaifullah Muhammad - Universitas Syiahkuala

Tema yang disampaikan dalam FGD ini adalah Industri NILAM Aceh yang merupakan salah satu produk unggulan berbasis sumber daya hayati lokal yang melimpah.

Suatu paradoks yang terjadi di Aceh dimana kekayaan sumber daya alam, belum memberikan kesejahteraan pada masyarakat, karena tingkat kemiskinan masih tinggi (prosentase penduduk miskin nomor 7) yaitu di bawah rata-rata tingkat kemiskinan.

Nilam sebagai salah satu produk minyak atsiri, diharapkan dapat dijadikan model pengembangan perekonomian berbasis biomasa. Nilam yang merupakan bahan baku parfum dinilai sangat tepat mengingat keunggulan dan mempunyai uniqueness sebagai bahan parfum yang tidak dapat tergantikan (patchou oil).

3.   Dr. Haryono – Ketua Komisi teknis Pangan dan Pertanian

Indonesia yang mempunyai potensi biodiversitas nomor satu di dunia belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung perekonomian. Salah satu jenis sumber daya hayati yang menonjol adalah dari kelompok Palmae (antara lain mencakup kelapa sawit, kelapa, abaka, dan sagu yang kaya produk turunan) dan Malvaceae yang kaya serat-serat sebagai komposite untuk industri otomotif dan pesawat terbang.Oleh karena itu dalam membangun bidang pertanian yang fokus utamanya untuk penyediaan pangan, juga harus mampu mendukung  bioindustri, biomasa dan bioenergi, berdasarkan ekoregion untuk menghasilkan produk unggulan tertentu.

4.   Prof. Ir. Bambang Sunendar, Ph.D – Anggota Komtek Material Maju

Indonesia kaya akan sumber daya hayati sebagai sumber biomasa yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi material maju yang mempunyai nilai tambah tinggi. Salah satu jenis biomassa tersebut adalah Lignoselulosa terutama dari limbah agroindustri. Lignoselulosa mengandung lignin, hemiselulosa, dan selulosa, dan potensi dari residu agroindustri mencapai 20-30%. Pemanfaatan biomasa lignoselulosa sebagai biomaterial sangat luas yaitu untuk material karbon aktif, lignin, selulosa, biofuel, pakan ternak dan pupuk. Disamping itu dapat diproses menjadi material nano karbon (GrapheneCarbon Nanotube dan Grafit) dan nano selulosa (Nano selulosa Kristalin dan Nano selulosa Amorf) yang dapat diisolasi sebagai senyawa aktif seperti biosensor, thermal konduktor, ion, katalis dan sebagainya. Karena fungsinya tersebut, maka nano-selulosa dapat diaplikasikan di berbagai industry seperti pangan, kesehatan, elektronik, tekstil dan lingkungan.

5.  Edi Wibowo - Direktur Utama Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit

Pendirian BPDP Kelapa Sawit ini bertujuan untuk menstabilisasi harga sawit, yaitu terutama dengan membiayai produksi biodiesel yang sekaligus untuk mendukung Pemerintah dalam pengembangan bioenergi sebagai enrgi baru terbarukan. Pemanfaatan dana ini mencakup: (i) pemenuhan kebutuhan pangan, hilirisasi industri, serta penyediaan dan pemanfaatan BBN jenis biodiesel, (ii)  peremajaan perkebunan, (iii)  litbang, (iv)  pengembangan SDM, (v) Promosi Perkebunan, dan (vi) sarpras Adapaun kegiatan litbang yang didukung adalah yang implementatif untuk industri, yang mencakup riset-riset untuk: (i) upaya peningkatan produktivitas/ efisiensi, (ii) peningkatan aspek sustainability, (iii) penciptaan produk serta pasar yang baru, dan (iv) peningkatan kesejahteraan petani.

(FA)

 
Lihat Foto Lainnya