1.  Arah dan Priortas Riset Kesehatan dan Obat

A.  Substansi khusus bidang kesehatan

1.     Riset obat herbal

    Kegiatan riset obat herbal masih kurang fokus, kurang koordinasi dan masih ada duplikasi. Diperlukan review detilberbagai hasil riset obat herbal yang ada dan dilakukan sinkronisasi program secara nasional.

    Pengembangan obat herbal diarahkan untuk pengobatan standar  dan pencegahan penyakit, sehingga diperlukan level of evidence dari obat herbal. Program saintifikasi jamu sudah mengarah pada tujuan tersebut dan perlu ditingkatkan. Diperlukan solusi untuk mengatasi kontinuitas pasokan dan kualitas bahan baku (simplisia tanaman obat) yang kurang.

    Diperlukan “roadmap pengembangan obat herbal Indonesia”sebagai acuan arah dan langkah dalam pelaksanaan riset obat herbal secara nasional

2.     Riset bahan baku obat (BBO)

    Sasaran dari visi Indonesia 2025 dalam bidang kesehatan adalah swasembada obat. Sampai saat ini lebih dari 90% kebutuhan bahan baku obat (BBO) tergantung pada impor. Pengembangan BBO (bahan aktif, bahan pembantu /exipient) sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

    Diperlukan roadmap kemandirianBBO untuk pengembangan industri BBO sampai dengan 2025 dan penguatan industri kimia dasar untuk mendorong pengembangan industri intermediet yang akan menghasilkan bahan baku obat farma grade.

    Pengembangan bahan baku obat berbasis protein (vaksin, EPO, hEPO), sel punca dan antibiotik merupakan potensi dan peluang yang bisa dilakukan oleh Indonesia. 

    Diperlukan komitmen negara untuk memberikan dukungan kebijakan yang operasional untuk mendorong perkembangan industri bahan baku obat, termasuk kebijakan penganggaran (one gate policy)

3.     Riset pengembangan vaksin

    Riset pengembangan vaksin perlu terus didorong dan dijadikan program nasional, terutama   pengembangan vaksin pentavalen, rotavirus, sIPV dan vaksin flu, serta berbagai vaksin untuk penyakit yang diprediksi akan berkembang di masa depan. Untuk itu perlu dilakukan riset nasional berbasis penyakit untuk mendapatkan “peta agen penyebab penyakit infeksi”

    Konsorsium vaksin yang sudah terbentuk perlu didorong agar terbangun kolaborasi dan sinergi antar lembaga riset yang kuat dan dapat memberikan hasil riset yang lebih cepat dan aplikatif

    Riset pengembangan vaksin bisa dijadikan model inovasi teknologi kesehatan dalam kerangka sinergi ABG untuk menuju kemandirian vaksin nasional

4.     Riset alat kesehatan

    Riset alat kesehatan sebaiknya disiapkan untuk kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang. Untuk jangka pendek riset pengembangan alat kesehatan difokuskan pada pengembangan produk dengan konten teknologi rendah dan menengah dengan tingkat kebutuhan nasional yang tinggi, karena untuk bisa bersaing dengan produsen alat kesehatan teknologi tinggi masih sangat berat.

    Diperlukan roadmap pengembangan alat kesehatan dengan dukungan kebijakan yang operasional.

    Pemerintah harus mendorong BSN untuk menyusun SNI alat kesehatan dan membantu peningkatan mutu produk alat kesehatan dalam negeri sehingga kepercayaan tenaga kesehatan dan masyarakat meningkat.

    Komunikasi dengan pemangku kebijakan (Kemenkes) perlu ditingkatkan untuk mendorong pengembangan teknologi dan industri alat kesehatan.

    Beberapa alat kesehatan yang perlu (potensial) untuk dikembangkan antara lain Electrocardiograph, incubator, USG dan ambulans, stetoskop, tensimeter dan timbangan digital bayi termasuk diagnostic kit

 

2.   Kebijakan Strategis

    Salah satu permasalahan utama dalam pelaksanaan program dan pencapaian target pembangunan nasional adalah kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Pola Pikir (Mindset), perilaku, sikap, keberanian dan kejujuran serta menghargai produk kreasi inovasi bangsa sendiri  merupakan fungsi dari kinerja otak. “Kesehatan Otak merupakan basis dari kesehatan holistik”. Pembangunan SDM unggul pada dasarnya merupakanpembangunan otak sehat melalui pendekatan kesehatan, pendidikan yang mengedepankan pembinaan karakter bangsa, sikap kritis dan inovatif  dan pemberdayaan masyarakat.

    Diperlukan dukungan politik yang kuat untuk meningkatkan pengembangan dan aplikasi iptek, utamanya dalam bentuk penguatan anggaran riset, pengakuan dan kemauan menggunakan hasil riset dalam negeri, apresiasi kepada para peneliti yang menghasilkan hasil kreatif inovatif dan diplomasi internasional.  

    Diperlukan peningkatan sinergi dan kemitraan antara lembaga riset dengan dunia industri dan berbagai lembaga think tank yang lain.

    Diperlukan penguatan fungsi dan peran DRN untuk dapat memberi tekanan positif kepada kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, agar konsep, arah dan program riset yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dan berbagai hasil riset yang diperoleh dapat dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat.